Polri Bedah 80 Rumah Layak Huni di Seluruh Indonesia Sambut Hari Bhayangkara ke-80
Baca dalam 60 detik
- Polri merenovasi 80 rumah tidak layak huni secara serentak di berbagai daerah, sebagai bagian dari peringatan Hari Bhayangkara ke-80.
- Setiap penerima manfaat telah melalui asesmen ketat, memastikan bantuan tepat sasaran bagi warga prasejahtera.
- Program ini diharapkan berkelanjutan dan menjadi model sinergi aparat dengan masyarakat dalam pembangunan sosial.

Polri memulai program bedah rumah di 80 titik yang tersebar di seluruh Indonesia, sebagai rangkaian bakti sosial menyambut Hari Bhayangkara ke-80. Salah satu rumah yang diresmikan pada Selasa (30/6) di Kampung Sentul, Bogor, menjadi simbol komitmen institusi kepolisian dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat prasejahtera.
Rumah milik Usin (85), seorang warga lanjut usia di Kelurahan Cikeas Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, menjadi salah satu penerima manfaat. Sebelum direnovasi, rumah tersebut dalam kondisi memprihatinkan dan tidak layak huni. Kini, Usin menempati hunian sederhana namun fungsional yang dilengkapi ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Sebagai nilai tambah, rumah ini juga dipasangi panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri dan ramah lingkungan.
Peresmian dilakukan oleh Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo, didampingi sejumlah pejabat tinggi Polri. Dalam sambutannya, Dedi menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata kepedulian Polri terhadap masyarakat. "Seluruh penerima manfaat telah melalui proses asesmen sehingga bantuan yang diberikan tepat sasaran. Kami berharap program ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan rumah layak huni," ujarnya.
Program bedah rumah ini tidak hanya berhenti pada renovasi fisik. Polri juga menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako kepada warga sekitar. Ketua RT setempat, Slamet, mewakili warga menyampaikan rasa syukur. "Pak Usin sudah 85 tahun dan rumahnya sangat membutuhkan perbaikan. Sekarang beliau punya rumah yang layak dan nyaman. Kami ikut senang," katanya.
Langkah Polri ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Andi Rahman, menilai program bedah rumah merupakan bentuk pendekatan humanis kepolisian yang patut dicontoh. "Ini menunjukkan bahwa Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga hadir dalam pembangunan sosial. Jika berkelanjutan, program ini bisa memperkuat kepercayaan publik," ujarnya.
Namun, tantangan ke depan adalah memastikan program serupa dapat dijalankan secara konsisten di tahun-tahun mendatang. Dengan anggaran yang terbatas, Polri perlu menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah dan sektor swasta untuk memperluas jangkauan. Pertanyaannya, apakah model gotong royong seperti ini bisa menjadi solusi permanen bagi masalah perumahan di Indonesia?



