Kemhan Hentikan Latsarmil, Ganti dengan Latihan Bela Negara dan Manajerial
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Pertahanan resmi menghentikan program latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi calon pengelola Koperasi Merah Putih setelah lima peserta meninggal dunia.
- Program baru bernama Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial akan fokus pada pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kesiapan manajerial, bukan lagi aktivitas militer seperti menembak.
- Evaluasi menyeluruh dilakukan terhadap aspek kesehatan dan materi pelatihan, dengan penyesuaian porsi latihan fisik sesuai kondisi peserta.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) secara resmi menghentikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi para calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih, dan menggantinya dengan program baru yang berfokus pada pembekalan bela negara dan manajerial. Langkah ini diambil setelah lima peserta meninggal dunia dalam program sebelumnya.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi bahwa terminologi dan pelaksanaan kegiatan kini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial. "Kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini," ujar Rico di Jakarta, Senin (30/6).
Perubahan ini merupakan hasil evaluasi menyeluruh yang diperintahkan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pascainsiden kematian lima peserta. Evaluasi tidak hanya menyentuh aspek kurikulum, tetapi juga prosedur kesehatan dan keselamatan peserta. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, dalam jumpa pers Sabtu (27/6) menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan menyeluruh kini menjadi prioritas. "Setiap satuan TNI yang menjadi pelatih harus menyesuaikan porsi latihan fisik sesuai kondisi peserta," kata Ketut.
Fokus baru program ini diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi. Rico menambahkan bahwa Kemhan akan memastikan proses pendidikan berjalan aman dan tertib dengan memperhatikan kondisi kesehatan peserta. Dengan demikian, esensi pendidikan yang menekankan kedisiplinan dan jiwa kepemimpinan tetap dipertahankan, namun tanpa risiko fisik yang berlebihan.
Langkah Kemhan ini menjadi sorotan publik, terutama terkait tata kelola program pelatihan yang melibatkan unsur militer untuk peserta sipil. Ke depan, pertanyaan besar adalah apakah model baru ini mampu menghasilkan pengelola koperasi yang kompeten tanpa mengorbankan aspek keselamatan, serta bagaimana pengawasan akan dilakukan untuk mencegah terulangnya insiden serupa.



