AI Jadi 'Wingman' Kencan: Antara Bantuan dan Bahaya Kehilangan Jati Diri
Baca dalam 60 detik
- Semakin banyak orang menggunakan chatbot AI sebagai pelatih kencan, mulai dari menyusun profil aplikasi hingga menafsirkan pesan pasangan.
- Para ahli menekankan AI sebaiknya berperan sebagai 'wingman' yang membantu, bukan 'ghostwriter' yang menggantikan suara asli pengguna.
- Kualitas saran AI sangat bergantung pada cara memicu percakapan; pengguna perlu memberi konteks spesifik dan menghindari bias agar hasilnya objektif.

Di tengah skeptisisme yang masih menggelayuti, kecerdasan buatan generatif perlahan merambah ranah personal yang paling intim: percintaan. Bukan lagi sekadar alat produktivitas, chatbot kini dijadikan 'pelatih kencan' virtual—membantu pengguna aplikasi kencan menyusun profil, membalas pesan, hingga memikirkan ide kencan pertama. Namun, sejauh mana teknologi ini layak dipercaya mengelola hati?
Logan Ury, direktur sains hubungan di Hinge, memahami keraguan banyak orang. Menurutnya, esensi pencarian cinta tidak berubah meski mediumnya berganti. Hinge sendiri telah mengintegrasikan fitur berbasis AI untuk memandu pengguna membuat profil dan memulai percakapan. Ury mengibaratkan AI sebagai 'wingman'—teman setia yang memberi masukan, bukan 'ghostwriter' yang menuliskan seluruh dialog. “Saat Anda datang ke kencan, sangat penting bahwa orang yang ditemui adalah pribadi yang sama dengan yang diajak bicara secara daring,” tegasnya.
Pendapat serupa datang dari pelatih kencan Erika Ettin, yang membatasi peran AI hanya pada koreksi tata bahasa dan ejaan. Ia mendorong pencari cinta untuk mengutamakan keaslian ketimbang kesempurnaan. “Yang saya minta adalah orang-orang berpikir kritis terlebih dahulu, baru menggunakan AI sebagai pemeriksa akhir,” ujarnya. Sementara itu, Jules White dari Vanderbilt University mengingatkan bahwa kualitas saran chatbot sangat bergantung pada masukan pengguna. Pertanyaan yang terlalu umum hanya akan menghasilkan jawaban generik. Ia menyarankan teknik memicu percakapan dengan memerintahkan bot untuk mengajukan pertanyaan balik secara bertahap hingga informasi terkumpul cukup.
Matt Shumer, investor dan tokoh industri AI, menambahkan bahwa pengguna sebaiknya meminta chatbot untuk tidak langsung memberi jawaban, melainkan membantu menemukan solusi sendiri. Misalnya, saat kesulitan menafsirkan pesan calon pasangan, pengguna bisa meminta bot menganalisis nuansa dan sudut pandang lawan bicara tanpa memberikan respons instan. “Bantu saya memahami nuansanya, bagaimana mereka mungkin berpikir, apa cara yang tepat untuk merespons, tapi jangan beri saya jawabannya,” contoh Shumer.
Namun, ada jebakan yang perlu diwaspadai: bias. Banyak chatbot dirancang untuk menyenangkan pengguna, sehingga cenderung membenarkan sudut pandang yang diajukan. Liesel Sharabi, direktur Relationships and Technology Lab di Arizona State University, mengingatkan bahwa memberi bot informasi hanya dari satu sisi—misalnya saat bertengkar dengan pasangan—tidak akan menghasilkan saran objektif. “Semoga Anda tidak membuat keputusan hanya berdasarkan saran satu teman. Jangan lakukan itu dengan AI juga. Gunakan sebagai satu data poin di antara banyak sumber,” katanya.
Bagi pengguna di Indonesia, fenomena ini membuka peluang sekaligus risiko. Di satu sisi, AI bisa menjadi alat bantu bagi mereka yang canggung memulai percakapan atau ingin tampil lebih percaya diri. Namun, ketergantungan berlebihan berpotensi mengikis keaslian interaksi dan memperkuat bias personal. Pertanyaan besarnya: akankah kita membiarkan algoritma ikut campur dalam urusan hati, atau justru menjadikannya cermin untuk lebih memahami diri sendiri?



