Kenangan Abadi: Liverpool Resmikan Monumen Permanen untuk Diogo Jota dan Sang Kakak
Baca dalam 60 detik
- Liverpool meresmikan monumen permanen 'Forever 20' untuk Diogo Jota dan Andre Silva di Anfield, tepat sehari sebelum peringatan satu tahun kecelakaan fatal mereka.
- Monumen berbentuk hati ini menggabungkan elemen personal seperti jersey, bunga, dan stik PlayStation, serta batu dari kampung halaman mereka di Portugal.
- Pembangunan tugu ini menjadi simbol ikatan emosional antara klub, suporter, dan keluarga, serta mengingatkan pada tradisi penghormatan di sepak bola global.

Liverpool resmi membuka monumen permanen untuk mengenang Diogo Jota dan kakaknya, Andre Silva, di kawasan Anfield, sehari menjelang genap satu tahun kepergian mereka. Patung berjudul "Forever 20" itu berdiri di 97 Avenue, tepat di lokasi yang sebelumnya dipenuhi ribuan bunga, syal, dan spanduk duka dari para penggemar.
Jota dan Silva meninggal dunia pada 3 Juli tahun lalu dalam kecelakaan mobil di barat laut Spanyol. Lamborghini yang mereka tumpangi keluar dari jalur dan terbakar. Sang pemain, yang saat itu berusia 28 tahun, meninggalkan duka mendalam di Liverpool dan jagat sepak bola Portugal. Andre Silva, yang juga berusia 30 tahun, adalah kakak kandung yang kerap mendampingi karier adiknya.
Monumen ini dirancang oleh seniman Emma Rodgers. Bagian tengahnya berupa patung hati yang terinspirasi dari selebrasi khas Jota setelah mencetak gol. Dari sudut pandang tertentu, bentuk hati itu juga memperlihatkan angka 20 dan 30—nomor kostum yang dikenakan kedua bersaudara semasa hidup. "Kami ingin menciptakan tempat yang abadi untuk cinta, persatuan, dan kenangan," demikian pernyataan resmi klub.
Yang menarik, monumen ini bukan sekadar patung biasa. Klub menyematkan elemen-elemen personal yang mencerminkan kepribadian Jota: dari hobi bermain PlayStation hingga selebrasi gol ikoniknya. Sebuah bunga yang ditinggalkan penggemar juga dicetak dalam perunggu. Semua itu menunjukkan betapa dalamnya ikatan antara pemain, suporter, dan klub.
Bagi Indonesia, tragedi serupa pernah mengguncang publik ketika pemain Timnas U-19, Akbar Riansyah, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas pada 2020. Momen seperti ini mengingatkan bahwa di balik gemerlap lapangan hijau, ada kisah kemanusiaan yang menyentuh. Tradisi penghormatan seperti yang dilakukan Liverpool bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub di Indonesia untuk lebih menghargai jasa para pemainnya, tidak hanya saat berprestasi, tetapi juga ketika mereka berpulang.
"'Forever 20' akan menjadi simbol cinta, persatuan, dan kenangan yang abadi, tempat bagi semua orang untuk merenung, mengingat, dan memberi penghormatan," ujar perwakilan Liverpool dalam pernyataan resmi.
Ke depan, monumen ini diprediksi akan menjadi destinasi baru bagi para penggemar yang datang ke Anfield. Seperti halnya tembok kenangan di luar stadion, "Forever 20" mengukuhkan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan juga ruang untuk mengenang dan merayakan kehidupan. Pertanyaannya, akankah klub-klub lain, termasuk di Indonesia, mengikuti jejak serupa untuk menghormati legenda mereka?



