Investor Asing Kembali Jual Bersih Saham Perbankan, BBCA Paling Dibuang
Baca dalam 60 detik
- Aksi jual bersih investor asing di bursa Indonesia mencapai Rp449,8 miliar pada sesi I, dengan tekanan terbesar di saham perbankan.
- Saham BBCA menjadi yang paling banyak dilepas asing, disusul BBRI dan BMRI, sementara sektor tambang dan energi justru diburu.
- Pola rotasi portofolio ini mengindikasikan pergeseran preferensi investor global terhadap sektor komoditas dibanding perbankan.

Investor asing kembali membukukan aksi jual bersih di bursa saham Indonesia pada perdagangan sesi I, dengan nilai mencapai Rp449,8 miliar. Tekanan jual terbesar masih tertuju pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, sementara di sisi lain, dana asing mulai merambah sektor pertambangan dan energi.
Data perdagangan menunjukkan total penjualan asing mencapai Rp1,7 triliun, lebih tinggi dibandingkan pembelian yang hanya Rp1,3 triliun. Kondisi ini memperpanjang tren net sell yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir, menandakan masih kuatnya arus keluar modal asing dari pasar modal Indonesia.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling tertekan, dengan volume jual asing mencapai 30,6 juta saham senilai Rp184,6 miliar. Disusul PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang dilepas 20,6 juta saham (Rp58,5 miliar) dan PT Bank Mandiri (BMRI) dengan 12,2 juta saham (Rp48,2 miliar). PT Bank Negara Indonesia (BBNI) juga tak luput dari aksi jual, sebanyak 8,7 juta saham senilai Rp28,4 miliar.
Di luar sektor perbankan, investor asing juga melepas saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) senilai Rp27,4 miliar, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp25,8 miliar, dan PT Telkom Indonesia (TLKM) Rp18,5 miliar. Pelepasan juga terjadi pada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Sementara itu, aksi beli asing terkonsentrasi di sektor pertambangan dan energi. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi primadona dengan pembelian 59,9 juta saham senilai Rp49,4 miliar. Disusul PT Aneka Tambang (ANTM) yang dibeli 8,5 juta saham (Rp23,4 miliar) dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) Rp8,5 miliar. Saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) dan PT Bumi Resources (BUMI) juga masuk dalam daftar beli asing.
Pola rotasi portofolio ini menunjukkan pergeseran preferensi investor global dari sektor perbankan yang dianggap jenuh ke sektor komoditas yang diuntungkan oleh kenaikan harga energi dan logam. Bagi investor domestik, fenomena ini menjadi sinyal untuk mencermati pergerakan sektor-sektor yang sedang diminati asing, terutama di tengah ketidakpastian suku bunga global dan prospek ekonomi Indonesia.
Ke depan, arah net sell asing masih akan bergantung pada sentimen eksternal, seperti kebijakan moneter bank sentral AS dan pergerakan harga komoditas. Apakah tekanan jual di perbankan akan berlanjut atau investor asing akan kembali masuk jika fundamental ekonomi membaik? Pasar akan terus mengamati.



