Pulang dari Piala Dunia, Moriyasu Bungkam soal Masa Depan, Honda Malah Lamar Jadi Pelatih
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Jepang Hajime Moriyasu belum memastikan kelanjutan kariernya usai tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
- Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) dikabarkan akan memperpanjang kontrak Moriyasu setahun, namun mantan bintang Keisuke Honda justru mencalonkan diri sebagai pelatih.
- Jepang harus segera bersiap menghadapi Piala Asia 2027 di Arab Saudi, turnamen yang bisa menjadi penentu masa depan Moriyasu.

Pelatih tim nasional Jepang, Hajime Moriyasu, pulang ke Tokyo tanpa memberikan kejelasan soal masa depannya setelah Samurai Blue tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Dalam sambutan singkatnya di Bandara Haneda, ia hanya menyebut akan mengevaluasi turnamen sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.
Kepulangan Moriyasu dan sebagian pemain disambut sekitar 700 suporter di Haneda, sementara rombongan lain tiba di Narita dengan sambutan 500 penggemar. Momen ini menjadi penutup pahit bagi Jepang yang untuk ketiga kalinya berturut-turut lolos ke fase gugur Piala Dunia, namun harus mengakui keunggulan Brasil 2-1 lewat gol di masa injury time.
JFA dikabarkan akan meminta Moriyasu bertahan setidaknya hingga Piala Asia 2027 yang digelar di Arab Saudi dalam enam bulan ke depan. Namun, rumor perpanjangan kontrak hanya satu tahun memicu reaksi dari legenda Jepang, Keisuke Honda. Melalui akun X-nya, Honda menawarkan diri sebagai pelatih dengan pernyataan tegas: jika kalah di Piala Asia, ia siap dipecat tanpa syarat.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik karena Jepang merupakan salah satu raksasa sepak bola Asia yang kerap menjadi tolok ukur. Jika Moriyasu bertahan, konsistensi Jepang di bawah kepemimpinannya patut dicermati, terutama dalam menghadapi tim-tim Asia Tenggara yang semakin kompetitif. Namun, jika JFA memilih jalan baru, bisa jadi terjadi pergeseran strategi yang berdampak pada peta kekuatan sepak bola Asia.
Pertanyaan besarnya: akankah JFA mempertahankan Moriyasu yang sudah terbukti membawa Jepang konsisten di Piala Dunia, atau justru memberi kesempatan pada figur kontroversial seperti Honda? Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib Samurai Blue di Piala Asia, tetapi juga arah sepak bola Jepang dalam jangka panjang.



