Pemerintah Inggris Tolak Perpanjang Jam Buka Pub untuk Laga Tengah Malam
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Inggris menolak memperpanjang jam operasional pub pada Minggu malam untuk pertandingan Piala Dunia Inggris vs Meksiko yang kick-off pukul 01.00 waktu setempat.
- Aturan yang ada hanya memperbolehkan perpanjangan hingga pukul 02.00 untuk kick-off setelah pukul 21.00, tidak mencakup laga dini hari.
- Asosiasi Pub dan Bir Inggris menyayangkan keputusan ini karena berpotensi mengurangi pendapatan dan pengalaman menonton bersama.

Pemerintah Inggris memastikan tidak akan memperpanjang jam buka pub pada Minggu malam untuk mengakomodasi suporter yang ingin menonton laga Piala Dunia antara Inggris dan Meksiko. Pertandingan yang digelar di Mexico City itu akan kick-off pada pukul 01.00 waktu setempat, di luar jangkauan kebijakan perpanjangan jam operasional yang telah ada.
Keputusan ini disampaikan Menteri Bisnis Kate Dearden di hadapan parlemen setelah anggota parlemen dari Partai Liberal Demokrat, Max Wilkinson, mendesak pemerintah untuk memberikan kelonggaran. Wilkinson menilai pub akan kehilangan peluang pendapatan besar jika tidak ada perpanjangan jam operasional secara menyeluruh.
Sebelumnya, pemerintah telah melonggarkan aturan perizinan untuk pertandingan yang dimulai pada sore hingga malam hari. Pub diizinkan buka hingga pukul 01.00 untuk kick-off antara pukul 17.00 hingga 21.00, dan hingga pukul 02.00 untuk kick-off setelah pukul 21.00. Namun, kebijakan ini tidak mencakup pertandingan yang dimulai pada pukul 01.00 dini hari.
Dearden menjelaskan bahwa pub sebenarnya masih bisa buka lebih awal atau tetap buka hingga larut, tetapi tidak untuk pertandingan yang dimulai pada pukul 01.00. "Untuk hari Minggu, sayangnya aturan itu tidak berlaku untuk kick-off pukul 01.00. Namun ke depannya, kami akan terus mendukung pub agar orang-orang bisa menonton dan mendukung tim kami," ujarnya.
Di sisi lain, Emma McClarkin, Kepala Eksekutif Asosiasi Pub dan Bir Inggris, menyayangkan keputusan tersebut. Ia mengatakan bahwa banyak pub yang sudah merencanakan untuk menayangkan pertandingan namun terkendala aturan. "Akan sangat memalukan bagi penggemar dan pub jika tempat-tempat lokal tidak bisa menyelenggarakan pertandingan penting seperti ini," kata McClarkin.
Bagi Indonesia, kebijakan ini menjadi pelajaran tentang pentingnya fleksibilitas regulasi dalam mendukung industri hiburan dan pariwisata. Di Indonesia, jam operasional tempat hiburan seperti kafe dan pub juga diatur oleh pemerintah daerah, terutama saat ada acara besar seperti Piala Dunia. Keputusan Inggris menunjukkan bahwa tanpa adaptasi kebijakan, peluang ekonomi dan sosial bisa terlewatkan.
Ke depan, pemerintah Inggris mungkin perlu mengevaluasi kembali kebijakan perpanjangan jam operasional untuk mengakomodasi pertandingan dengan jadwal yang tidak biasa. Pertanyaan yang muncul: apakah keputusan ini akan mempengaruhi antusiasme suporter dan pendapatan sektor perhotelan selama turnamen berlangsung?



