IHSG Terkoreksi 1,72%, Investor Asing Lepas Saham Rp537 Miliar — Ini Rekomendasi Analis
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan ambles ke level 5.896,13 pada akhir pekan lalu, dipicu aksi jual asing dan pelemahan sektor industri dasar.
- Tiga emiten — PKPK, YOII, dan RAJA — mengumumkan aksi korporasi besar, mulai dari akuisisi Rp890 miliar hingga rights issue dan dividen final.
- Analis merekomendasikan lima saham teknikal, termasuk SAME dan KLBF, dengan target harga jangka pendek di tengah volatilitas pasar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 1,72% ke posisi 5.896,13 pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (26/6), di tengah derasnya arus keluar modal asing dan koreksi di hampir seluruh sektor. Kondisi ini menjadi sinyal kehati-hatian bagi investor ritel dan institusi di tengah minimnya katalis positif dari bursa global.
Data bursa mencatat investor asing membukukan aksi jual bersih senilai Rp302,24 miliar di pasar reguler dan total Rp537,25 miliar di seluruh pasar. Tekanan jual asing itu sejalan dengan pelemahan indeks di Amerika Serikat, di mana Nasdaq terkoreksi 0,24% sementara Dow Jones dan S&P 500 bergerak stagnan. Dari dalam negeri, aktivitas perdagangan juga melambat menjelang pencatatan enam emiten baru pada awal Juli — rata-rata nilai transaksi mingguan turun 29,13% dan volume menyusut 26,01%.
Secara sektoral, hanya sektor keuangan yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,03%, sementara sektor basic industry menjadi yang terpuruk dengan koreksi hingga 5%. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BHAT tercatat menjadi penopang utama, sedangkan BREN, EMAS, dan BRMS menekan indeks paling dalam.
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah emiten justru mengumumkan aksi korporasi yang menarik perhatian. PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) mengakuisisi 50,52% saham Seri A PT Deli Pratama Angkutan Laut (DPAL) dari Resources Global Development Limited (RGD) senilai Rp890 miliar. Langkah ini dirancang untuk mengintegrasikan rantai pasok batu bara anak usahanya, PT Tri Oetama Persada, dengan armada logistik DPAL yang terdiri dari 67 unit kapal tunda, tongkang, dan kapal curah. Setelah transaksi rampung, total aset PKPK diproyeksikan melonjak 263,28% menjadi Rp2,28 triliun, meski liabilitas juga membengkak 350,65% menjadi Rp1,42 triliun akibat utang afiliasi jangka pendek.
PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) juga bergerak dengan menerbitkan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) maksimal 684,94 juta saham baru di harga Rp100 per saham, berpotensi mengantongi dana Rp68,49 miliar. Sekitar 90% dana akan dialokasikan untuk pemasaran dan distribusi platform, sisanya untuk pengembangan aplikasi dan infrastruktur TI. Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 16,67%. Qoala Technology, pemilik 4,97% saham YOII, berkomitmen menyerap seluruh haknya dan menerima pengalihan dari dua pemegang saham utama. Periode perdagangan HMETD dijadwalkan pada 8–21 Juli.
Sementara itu, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menetapkan dividen tunai final Rp40 per saham atau total Rp168,49 miliar untuk tahun buku 2025. Dengan dividen interim Rp25 per saham yang sudah dibayarkan pada Januari 2026, total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp65 per saham atau sekitar Rp274,76 miliar. Kinerja RAJA sepanjang 2025 mencatatkan pertumbuhan pendapatan 4,80% menjadi US$266,67 juta dan laba bersih naik 6,61% menjadi US$27,24 juta. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 1 Juli, dengan pembayaran pada 24 Juli. Pada penutupan 26 Juni, harga saham RAJA di Rp3.780 memberikan dividend yield final sekitar 1,06%.
Dari sisi teknikal, analis memberikan rekomendasi beli untuk lima saham dengan level support dan resistance yang jelas. SAME direkomendasikan beli di kisaran 394–398 dengan target harga 404–410 dan stop loss di 376. ICON di level 114–115 dengan target 118–120, stop loss 108. TCPI di 7.325–7.375 dengan target 7.500–7.650, stop loss 6.900. KLBF di 775–785 dengan target 795–805, stop loss 740. RGAS di 206–210 dengan target 214–218, stop loss 19. Rekomendasi ini bersifat informatif dan bukan ajakan transaksi.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada sentimen eksternal, terutama arah suku bunga acuan AS dan data inflasi global. Di dalam negeri, aksi korporasi seperti rights issue dan akuisisi dapat menjadi katalis parsial, namun investor tetap perlu mencermati risiko likuiditas dan volatilitas jangka pendek. Apakah pelemahan ini akan berlanjut atau justru menjadi titik masuk bagi pemburu diskon? Jawabannya akan terlihat dalam sepekan ke depan.



