BEM Banyumas Raya Padukan Aksi Kritik dengan Lapak Baca dan Pasar Gratis
Baca dalam 60 detik
- Mahasiswa BEM se-Banyumas Raya menggelar aksi di Alun-alun Purwokerto dengan menghadirkan lapak baca gratis dan pasar baju bekas sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.
- Aksi ini merupakan eskalasi dari demonstrasi sebelumnya, menuntut penghentian program MBG, proyek KDMP, dan penegakan supremasi sipil.
- Koordinator aksi menyebut partisipasi masyarakat luas dalam kegiatan tersebut menunjukkan keresahan yang meluas terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.

Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Banyumas Raya menggelar aksi unjuk rasa di Alun-alun Purwokerto, Jawa Tengah, akhir pekan ini. Aksi yang menuntut perubahan haluan kebijakan pemerintah Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka itu dikemas berbeda dengan menyediakan lapak baca buku gratis dan pasar baju bekas gratis.
Dalam aksi tersebut, peserta menutup setengah lajur Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto. Kehadiran lapak baca dan pasar gratis menjadi pembeda dari aksi-aksi sebelumnya. Menurut Koordinator Lapangan Aksi, Setyawan, dua kegiatan itu sengaja dihadirkan sebagai simbol bahwa keresahan terhadap pemerintahan saat ini tidak hanya dirasakan kalangan mahasiswa, melainkan juga masyarakat luas.
Setyawan menjelaskan aksi ini merupakan tindak lanjut dari demonstrasi sebelumnya. Mahasiswa menilai berbagai kebijakan pemerintah telah menimbulkan persoalan di berbagai sektor, terutama ekonomi. βIni tindak lanjut dari eskalasi, kita merasakan bosannya dengan Prabowo-Gibran menjabat. Belum ada dua tahun, tetapi kerusakan yang dihasilkan sudah sangat besar. Kita melihat perekonomian Indonesia stagnan akibat kebijakan fiskal dan kebijakan terkait proyek strategis nasional yang menurut kami tidak sesuai,β ujarnya saat ditemui wartawan, Jumat (26/6).
Dalam aksi tersebut, BEM Banyumas Raya membawa lima tuntutan utama. Pertama, menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kedua, menghentikan proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ketiga, menegakkan kembali supremasi sipil, termasuk dengan mengkritisi Undang-Undang TNI dan RUU Polri. Dua tuntutan lainnya tidak disebutkan secara rinci dalam pernyataan resmi.
Aksi kali ini sengaja dikemas berbeda. Selain orasi, panitia menggelar panggung musik, pertunjukan teatrikal, lapak baca gratis, hingga pasar baju bekas gratis. βKita ingin mimbar bebas bukan hanya orasi, tapi juga ada mimbar kesenian. Makanya ada band, nanti juga ada teatrikal. Di sini juga ada lapak baca, ada pasar gratis. Itu bukti bahwa bukan hanya mahasiswa yang muak, tetapi masyarakat juga ikut merasakan hal yang sama,β kata Setyawan.
Ia menambahkan peserta aksi berasal dari berbagai elemen, tidak hanya mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kampus. Sejumlah komunitas masyarakat hingga organisasi seperti Aksi Kamisan Purwokerto juga ikut bergabung. βBisa dilihat sekarang kita sudah lepas almamater semua. Kita melebur menjadi satu dengan masyarakat. Aksi ini menggunakan nama BEM Banyumas Raya dan juga menggandeng teman-teman dari berbagai organisasi,β katanya.
Aksi mahasiswa ini menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah daerah dan pusat. Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan kreatif, mahasiswa berharap kritik mereka tidak hanya didengar, tetapi juga mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat. Pertanyaan besarnya, akankah gelombang protes seperti ini mampu mengubah arah kebijakan ekonomi yang dinilai stagnan?



