Puasa 22 Laga Berakhir: Irlandia Akhirnya Cicipi Manis Kemenangan di Piala Dunia T20 Wanita
Baca dalam 60 detik
- Irlandia mengakhiri rekor 21 kekalahan beruntun di Piala Dunia T20 Wanita dengan kemenangan enam wicket atas Hindia Barat.
- Orla Prendergast menjadi bintang dengan 63 run dari 44 bola, membawa timnya melampaui target 129 run dengan 11 bola tersisa.
- Kemenangan ini menjadi momentum kebangkitan kriket Irlandia setelah tim putra sehari sebelumnya mengalahkan India.

Setelah menanti selama lima edisi turnamen dan 21 pertandingan tanpa kemenangan, tim kriket putri Irlandia akhirnya memecahkan telur di Piala Dunia T20. Pada Sabtu sore yang cerah di Bristol, mereka menaklukkan Hindia Barat dengan selisih enam wicket, sekaligus menorehkan sejarah manis bagi kriket Negeri Shamrock.
Kapten Gaby Lewis dan kawan-kawan tampil percaya diri sejak awal. Meskipun Lewis tumbang lebih dulu, Orla Prendergast bersama Amy Hunter membangun kemitraan krusial 62 run untuk wicket kedua. Prendergast, yang kemudian dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan, mencetak 63 run dari 44 bola dengan dua six dan delapan four. Ia mengaku lega dan bahagia karena keyakinan tim tak pernah pudar meski sebelumnya selalu gagal.
Di sisi lain, Hindia Barat yang merupakan juara edisi 2016 justru tampil mengecewakan. Mereka hanya mampu mengumpulkan 128-7 dalam 20 overs, dengan dua wicket masing-masing dari Cara Murray dan Aimee Maguire. Lapangan dan penangkapan bola yang rapi dari Irlandia membuat lawan frustrasi. Kekalahan ini membuat peluang Hindia Barat ke semifinal tergantung pada hasil pertandingan Selandia Baru melawan Inggris.
Kemenangan ini terasa istimewa karena sehari sebelumnya tim putra Irlandia juga mencatat kemenangan bersejarah dengan mengalahkan India, juara dunia T20. Inspirasi dari sesama tim nasional menjadi suntikan moral bagi para putri. Lewis mengakui bahwa target tersebut terjangkau berkat kedalaman batting dan kepercayaan diri yang tinggi. Ia juga memuji kerja keras tim dalam membatasi boundary lawan di akhir inning.
Bagi Irlandia, perjalanan di turnamen ini tidak mudah. Mereka nyaris menang melawan Selandia Baru, hanya kalah selisih empat run. Namun, semangat pantang menyerah terus terjaga. "Kami mengalami kekalahan tipis dan kekalahan telak, tapi kami selalu bangkit kembali," ujar Lewis. Ketangguhan mental ini menjadi modal berharga untuk turnamen-turnamen mendatang.
Di Indonesia, kriket memang belum sepopuler olahraga lain, namun prestasi Irlandia bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan pembinaan jangka panjang. Federasi Kriket Indonesia (FKI) dapat meniru pendekatan Irlandia yang membangun tim dari akar rumput dan menjaga moral pemain meski sering kalah. Keberhasilan ini juga membuktikan bahwa investasi pada kriket putri memiliki potensi besar, sebagaimana tren global yang mulai merata.
Ke depan, Irlandia diharapkan tidak lagi menjadi underdog. Dengan pemain muda berbakat seperti Prendergast dan Hunter, mereka berpotensi bersaing di level tertinggi. Pertanyaannya, bisakah mereka mempertahankan performa ini dan menjadi ancaman serius di Piala Dunia mendatang? Atau akankah kemenangan ini hanya menjadi kilasan sesaat?



