Jadwal Padat All Stars, Andien dan Raisha Buktikan Mentalitas Pesepak Bola Putri Muda
Baca dalam 60 detik
- Dua pemain muda, Andien Syakira dan Raisha Batrisyia, harus membagi fokus antara MilkLife Soccer Challenge All Stars dan Hydroplus Soccer League All Stars yang berlangsung berdekatan.
- Mereka menjadi motor penggerak tim berkat pengalaman di kompetisi level lebih tinggi, meski harus pintar mengatur pemulihan fisik.
- Kompetisi berjenjang ini dinilai sebagai jalur strategis mencetak bibit pemain Timnas Putri Indonesia di masa depan.

Dua pesepak bola putri usia dini, Andien Haifa Syakira dan Raisha Qaireen Batrisyia, menjadi sorotan dalam gelaran MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026 karena harus menjalani dua turnamen besar dalam rentang waktu kurang dari dua pekan. Mereka tidak hanya tampil di ajang All Stars MilkLife di Kudus pada 23–28 Juni, tetapi juga bersiap turun di Hydroplus Soccer League (HPSL) All Stars yang digelar pada 5–12 Juli 2026.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kompetisi sepak bola putri usia dini di Indonesia mulai memiliki jenjang yang terstruktur. MilkLife Soccer Challenge, yang diperuntukkan bagi anak usia 8–12 tahun dari tingkat SD/MI, telah berlangsung di 12 kota. Sementara HPSL menjadi wadah lanjutan bagi pemain yang naik ke level U-15 dan U-18, dengan format liga yang menuntut konsistensi setiap pekan. Yang menarik, sejumlah pemain seperti Andien dan Raisha masih berusia 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD, sehingga mereka masih memenuhi syarat untuk tampil di MilkLife Challenge meski sudah merasakan kerasnya HPSL.
Bagi Andien, yang memperkuat Cipta Cendikia FA U-15 di HPSL, perbedaan intensitas antara kedua kompetisi sangat terasa. “Di MilkLife kami diajarkan bermain dengan intensitas kuat, tapi di HPSL lebih tinggi lagi,” ujarnya. Ia mengakui sempat merasa tidak percaya diri karena menjadi pemain termuda di timnya. Namun, pengalaman itu justru menjadi bekal berharga saat ia dipercaya sebagai pemimpin di lapangan oleh pelatih All Stars Jakarta. Asisten pelatih Sasi Kirana menegaskan, “Faktor terbesarnya ada di Andien dan Bianca. Merekalah yang bisa menaikkan semangat anak-anak.”
Raisha, penyerang Scorpion FC U-15 asal Kudus, juga merasakan beban ganda. “Sekarang harus diakui cukup berat. Saya harus mengatur fokus dengan MilkLife Challenge All Stars ini dan kemudian mempersiapkan diri untuk HPSL All Stars,” katanya. Meski demikian, ia melihat kedua ajang ini sebagai batu loncatan menuju mimpinya menjadi pemain Timnas Indonesia. “Saya akan berlatih terus dan menguatkan mental saya,” tegas Raisha.
Kehadiran pemain yang sudah malang melintang di HPSL menjadi pendongrak semangat tim-tim All Stars. Pelatih memberikan peran khusus kepada mereka untuk memimpin diskusi dan mencari solusi saat menghadapi masalah di lapangan. “Pelatih tidak bisa berbuat banyak karena yang menentukan di lapangan adalah pemain,” ujar Sasi Kirana. Andien mengaku bangga mendapat kepercayaan itu: “Saya senang bisa membimbing dan memotivasi teman-teman.”
Untuk menjaga kebugaran, Andien telah menyusun rencana pemulihan pasca-final MilkLife. Ia akan kembali ke Jakarta, beristirahat 3–4 hari, lalu kembali ke Kudus untuk HPSL All Stars dengan latihan intensitas rendah. Raisha pun menerapkan strategi serupa: “Setelah pertandingan final, saya harus istirahat cukup agar siap tampil bersama tim.”
Kompetisi berjenjang seperti MilkLife Soccer Challenge dan Hydroplus Soccer League dinilai sebagai infrastruktur penting bagi pembinaan sepak bola putri Indonesia. Dengan adanya jalur yang jelas dari usia dini hingga remaja, mimpi untuk memperkuat Garuda Pertiwi bukan lagi sekadar angan. Pertanyaannya, seberapa konsisten ekosistem ini akan berlanjut untuk melahirkan generasi emas sepak bola putri Indonesia?



