Brandon Nakashima Tembus Semifinal ATP Masters 1000 Perdana, Singkirkan Luciano Darderi di Montreal
Baca dalam 60 detik
- Petenis Amerika Serikat, Brandon Nakashima, mengalahkan Luciano Darderi 6-2, 6-3 untuk melaju ke semifinal ATP Masters 1000 pertamanya di Kanada Terbuka.
- Kemenangan ini menegaskan konsistensi Nakashima di level tertinggi, sekaligus menjadi sinyal kebangkitan tenis AS di tengah absennya nama-nama besar seperti Sinner dan Djokovic.
- Dengan semifinal yang menanti, peluang Nakashima untuk merebut gelar perdana Masters 1000 semakin terbuka, meski persaingan diprediksi tetap ketat.

Brandon Nakashima memastikan tempat di semifinal ATP Masters 1000 untuk pertama kalinya dalam kariernya setelah menundukkan petenis Italia Luciano Darderi dua set langsung, 6-2, 6-3, pada perempat final Kanada Terbuka di Montreal, Selasa (12/8) waktu setempat. Kemenangan ini sekaligus mengantarkan petenis berusia 24 tahun itu ke babak empat besar turnamen level 1000 untuk kali pertama, sebuah pencapaian yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.
Bermain di IGA Stadium, Nakashima tampil dominan sejak awal. Ia melepaskan 11 ace dan hanya kehilangan lima game sepanjang pertandingan. Darderi, yang diunggulkan di posisi 19, tampak frustrasi dan kehilangan konsentrasi setelah kehilangan break di game keempat set pertama. Nakashima menutup set pertama dengan meyakinkan, lalu kembali mematahkan servis lawan pada game kesepuluh set kedua untuk mengunci kemenangan.
Kemenangan ini menjadi penegas bahwa Nakashima, yang kini berperingkat 28 dunia, bukan sekadar pemain pelapis. Ia menunjukkan kematangan bermain dengan variasi pukulan dan ketenangan dalam momen-momen krusial. Di semifinal, ia akan menunggu pemenang laga antara Rafael Jodar dari Spanyol dan Arthur Fils dari Prancis yang baru bertanding pada hari yang sama.
Turnamen pemanasan menuju AS Terbuka ini memang berlangsung tanpa sejumlah nama besar, termasuk petenis nomor satu dunia Jannik Sinner dan juara Grand Slam 24 kali Novak Djokovic. Asosiasi Pemain Tenis Profesional (PTPA) pekan ini menyoroti beban kerja pemain sebagai alasan absennya para bintang tersebut. Kondisi ini membuka peluang bagi pemain muda seperti Nakashima untuk bersinar, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan kalender tenis profesional yang semakin padat.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Nakashima menjadi tontonan menarik. Ia mewakili generasi baru petenis Amerika yang mencoba bangkit setelah sekian lama didominasi Eropa. Keberhasilannya menembus semifinal turnamen 1000-level juga mengingatkan bahwa persaingan tenis putra semakin terbuka, dengan banyak nama baru siap merebut tahta.
Perjalanan Nakashima di Montreal tidak mudah. Sebelumnya, ia melewati tiga pertandingan ketat, termasuk kemenangan atas Arthur Rinderknech di babak 16 besar. Namun, melawan Darderi, ia tampil efisien. Ia hanya menghadapi satu break point sepanjang laga dan berhasil menyelamatkannya. Sebaliknya, ia sukses mengonversi tiga dari empat peluang break yang ia ciptakan.
Darderi, yang musim ini menembus peringkat 30 besar, mengakui keunggulan lawannya. "Dia bermain sangat agresif dan servisnya sulit dikembalikan. Saya tidak bisa menemukan ritme," ujarnya dalam konferensi pers usai laga. Nakashima sendiri memilih perayaan yang tenang, seolah menyimpan energi untuk tantangan berikutnya.
Dengan absennya para unggulan top, peluang Nakashima untuk meraih gelar Masters 1000 pertamanya terbuka lebar. Namun, ia harus mewaspadai lawan-lawan berikutnya yang juga tampil percaya diri. Apakah Nakashima mampu memanfaatkan momentum ini dan menjadi juara? Atau justru akan ada kejutan lain di Montreal? Publik tenis dunia, termasuk Indonesia, patut menantikan jawabannya.



