DR Congo Bungkam Uzbekistan demi Tiket 16 Besar: Strategi Menyerang Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Timnas DR Congo hanya punya satu poin di Grup K dan wajib mengalahkan Uzbekistan untuk lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.
- Pelatih Sebastien Desabre mengubah formasi dari defensif 5-3-2 menjadi lebih ofensif, dengan mengandalkan duet Cedric Bakambu dan Yoane Wissa.
- Uzbekistan, yang kebobolan tujuh gol dalam dua laga, masih berpeluang lolos jika menang, menjadikan laga ini duel hidup-mati bagi kedua tim.

Tim nasional Republik Demokratik Kongo (DR Congo) berada di ujung tanduk. Hanya kemenangan atas Uzbekistan pada laga pamungkas Grup K Piala Dunia 2026 yang bisa menyelamatkan langkah mereka ke babak 16 besar. Pertandingan yang berlangsung di Atlanta Stadium, Kamis (27/6) waktu setempat, menjadi panggung bagi skuad asuhan Sebastien Desabre untuk membuktikan nyali.
Sejauh ini, DR Congo baru mengoleksi satu poin hasil imbang 1-1 melawan Portugal. Sementara itu, Uzbekistan tanpa poin setelah kalah telak dari Portugal dan Kolombia dengan kebobolan total tujuh gol. Meski demikian, peluang Uzbekistan masih terbuka: kemenangan tipis sudah cukup untuk melaju, bergantung hasil laga Portugal vs Kolombia.
Pelatih Sebastien Desabre mengakui bahwa pendekatan defensif yang ia terapkan sebelumnya merupakan pilihan taktis. “Portugal peringkat lima dunia, Kolombia peringkat 13. Kami sengaja memainkan formasi 5-3-2,” ujarnya. Ia menilai sistem itu berjalan cukup baik, kecuali satu kesalahan di sisi kiri yang membuat mereka kalah dari Kolombia. Namun untuk laga penentuan, Desabre berjanji akan mengubah strategi. “Tim akan diatur untuk mencetak gol. Kami tahu apa yang harus dilakukan untuk lolos,” tegasnya.
DR Congo mengandalkan duet penyerang veteran Cedric Bakambu (35 tahun) dan Yoane Wissa yang bermain di Newcastle United. Wissa sempat mencetak gol ke gawang Portugal, namun performanya di level klub musim lalu kurang meyakinkan akibat cedera. Desabre membela anak asuhnya. “Wissa kembali ke performa terbaiknya saat persiapan turnamen. Saya melihat motivasi dan latihannya. Ia akan tampil maksimal,” kata Desabre.
Bagi Indonesia, laga ini menarik untuk dicermati sebagai gambaran betapa tipisnya margin antara sukses dan gagal di turnamen akbar. DR Congo, yang notabene bukan unggulan, mampu menahan Portugal—tim peringkat lima dunia—namun harus membayar mahal satu kesalahan. Sementara Uzbekistan, meski kebobolan banyak, masih memiliki peluang. Ini mengingatkan bahwa di Piala Dunia, taktik dan mentalitas sama pentingnya dengan kualitas individu.
Pertandingan ini juga menjadi ujian bagi Desabre, pelatih asal Prancis yang membawa DR Congo ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974. Jika gagal, ia harus mempertanggungjawabkan keputusan bermain bertahan di dua laga awal. Namun jika menang, ia akan dianggap jenius. Satu hal yang pasti: laga ini akan berlangsung sengit, dengan kedua tim sama-sama haus kemenangan. Pertanyaannya, apakah DR Congo mampu mengatasi tekanan dan meraih tiket bersejarah?



