Singapura Resmikan Hunian Khusus Sopir Bus, Dilengkapi AC dan Ruang Game
Baca dalam 60 detik
- Fasilitas delapan lantai di Sengkang Barat ini menjadi tempat tinggal gratis bagi hampir 200 sopir bus asal China, dengan biaya utilitas ditanggung penghuni.
- Terintegrasi langsung dengan depo bus, hunian ini memangkas waktu perjalanan kerja hingga nyaris nol, memungkinkan sopir lebih banyak beristirahat.
- Serikat pekerja mendorong penyediaan pod tidur di depo untuk sopir lokal yang menjalani shift terpisah, seiring upaya meningkatkan daya tarik profesi ini.

Operator transportasi SBS Transit resmi membuka hunian khusus pertama bagi sopir bus di Singapura, sebuah gedung delapan lantai yang terletak tepat di samping Depo Bus Sengkang Barat. Fasilitas bernama SQ@Sengkang West ini menyediakan 234 tempat tidur di 39 apartemen dan saat ini ditempati hampir 200 pengemudi asal China.
Setiap apartemen dihuni maksimal enam orang dengan tiga kamar tidur, dilengkapi dapur bersama, ruang makan, serta area cuci. Kamar tidur bergaya twin-sharing memiliki pendingin udara, kipas angin langit-langit, dan lemari built-in. Dapur sudah dilengkapi kompor gas, lemari es, peralatan masak, dan piring. Area cuci menyediakan mesin cuci, pengering, dan rak jemuran. Selain itu, tersedia ruang serbaguna untuk permainan seperti carrom dan tenis meja, layanan antar belanjaan, serta ruang sakit yang ramah kursi roda. Alkohol dilarang di seluruh area.
Hunian ini dikelola oleh operator co-living Coliwoo. Menurut SBS Transit, biaya pengoperasian fasilitas ini sebanding dengan menyewa unit HDB, yang sebelumnya menjadi tempat tinggal para sopir. Akomodasi diberikan gratis sebagai bagian dari paket kerja, namun penghuni membayar sendiri biaya utilitas. Satu lantai khusus disediakan bagi sopir perempuan.
Chief Executive Officer SBS Transit, Jeffrey Sim, mengatakan bahwa desain bangunan ini menyerap masukan langsung dari para sopir bus. “Kami yakin penghuni adalah orang yang paling tahu apa yang membuat tempat ini nyaman,” ujarnya. Ia juga menyebut keterlibatan Sekretaris Eksekutif Serikat Pekerja Transportasi Nasional (NTWU), Yeo Wan Ling, dalam memberikan masukan praktis. Fitur paling menonjol, menurut Sim, adalah kemudahan akses ke tempat kerja. “Tinggal tepat di samping depo berarti hampir tidak ada waktu perjalanan antara rumah dan kerja. Waktu yang dihemat bisa digunakan untuk istirahat, olahraga, hobi, memasak, atau bersosialisasi.”
Salah satu penghuni, Tian Yinfu (55), sopir asal China yang sudah 17 tahun bekerja, merasakan manfaatnya. Sebelumnya ia tinggal di flat HDB Hougang dan harus naik antar-jemput karyawan selama 20 menit. Untuk shift paling pagi, ia harus bangun pukul 05.00; kini ia bisa bangun pukul 05.40. “Lingkungannya sangat bagus. Saya bisa memasak, mandi, dan langsung kembali ke sini setelah kerja,” katanya.
Depo Bus Sengkang Barat sendiri mulai beroperasi pada Januari 2025 sebagai depo bertingkat pertama yang mendukung penggelaran bus listrik skala besar. Keberadaan hunian ini menjadi solusi bagi sopir asal China yang tinggal terlalu jauh dari depo. Sementara itu, NTWU menyatakan tidak akan mendorong sopir warga negara Singapura atau penduduk tetap (PR) untuk tinggal di asrama serupa, karena mayoritas dari mereka memiliki keluarga dan lebih memilih pulang ke rumah setelah kerja.
Serikat pekerja justru tengah mendorong penyediaan fasilitas istirahat bagi semua sopir, terutama yang menjalani split shift—bekerja pada jam sibuk pagi dan sore. Yeo mengungkapkan bahwa NTWU sedang menjajaki kemungkinan memasang pod tidur di depo dan terminal bus agar sopir bisa beristirahat di antara shift. “Untuk menarik lebih banyak warga Singapura masuk ke industri ini, selain gaji, penting bagi kami memperbaiki kondisi kerja para kapten bus,” ujarnya. Langkah ini beriringan dengan kenaikan gaji pokok sebesar S$450 bagi sopir warga negara dan PR yang diumumkan awal bulan ini. Namun, sejumlah sopir menilai jam kerja awal dan risiko mengemudikan kendaraan besar masih menjadi faktor yang menghalangi minat lokal.
Dengan inovasi hunian terintegrasi ini, Singapura menunjukkan bahwa perbaikan kesejahteraan sopir bus tidak hanya soal nominal gaji, tetapi juga lingkungan tempat tinggal yang mendukung produktivitas. Pertanyaannya, akankah model serupa diadopsi oleh negara lain—termasuk Indonesia—yang juga bergulat dengan tantangan rekrutmen dan retensi sopir transportasi umum?



