Iran Kukuhkan Kendali Selat Hormuz, Kapal Kena Serang di Oman
Baca dalam 60 detik
- Teheran menegaskan hak mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan menolak tuntutan AS serta enam negara Teluk yang menginginkan navigasi bebas.
- Serangan terhadap kapal Ever Lovely milik Evergreen Marine di dekat Oman memperlihatkan kerapuhan gencatan senjata sementara antara Iran dan AS.
- Ketegangan di jalur minyak dunia ini berpotensi mengerek harga energi global dan menguji pasokan energi Indonesia yang bergantung pada impor minyak.

Iran kembali menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz sehari setelah sebuah kapal kontainer terkena serangan di dekat Oman, mengirim sinyal keras bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat masih jauh dari kata stabil.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, Jumat (26/6), menyatakan bahwa navigasi aman di selat strategis itu tidak bisa dijamin tanpa melibatkan Iran sebagai negara pantai. Pernyataan ini merupakan respons atas sikap bersama AS dan enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang menolak rencana Iran memberlakukan tarif bagi kapal yang melintas.
Ketegangan semakin memanas setelah televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa tiga kapal tanker asing yang mencoba melintas tanpa izin berhasil dihalau oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Di sisi lain, dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengklaim bahwa Iran yang menembaki kapal Ever Lovely milik Evergreen Marine, meskipun Teheran membantahnya.
Serangan terhadap kapal berbendara Singapura itu terjadi pada Kamis (25/6) di rute yang direkomendasikan oleh badan maritim Inggris UKMTO. Beruntung tidak ada korban jiwa, dan kapal kemudian melanjutkan perjalanan keluar dari selat. Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk sementara menghentikan operasi pengawalan kapal di selat tersebut pasca-insiden.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang sedang dalam tur Teluk untuk menenangkan sekutu, memperingatkan bahwa setiap upaya Iran memblokir kapal akan menimbulkan masalah besar. Sementara itu, penasihat tertinggi Pemimpin Tertinggi Iran Ali Akbar Velayati mengancam negara-negara Arab Teluk bahwa stabilitas mereka bergantung pada toleransi Teheran dalam mengelola Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, setiap gangguan pasokan dari Timur Tengah berpotensi menekan harga BBM domestik dan memperburuk defisit neraca perdagangan migas. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral perlu mencermati perkembangan ini, terutama jika Iran benar-benar memberlakukan tarif lintas yang dapat menaikkan biaya pengiriman.
Kesepakatan sementara Iran-AS yang ditandatangani pekan lalu memang membuka ruang negosiasi 60 hari untuk membahas isu-isu pelik, termasuk program nuklir Iran. Namun, insiden di Oman menunjukkan bahwa implementasi di lapangan masih rapuh. AS mengaitkan kesepakatan damai yang langgeng dengan penghentian program rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok proksi, sementara Iran mendesak pencabutan sanksi dan pengakuan atas perannya di kawasan.
Di dalam negeri AS, perang di Timur Tengah menjadi beban politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela November. Sementara itu, IMO dan Oman sebelumnya telah mengumumkan rute baru di selatan selat untuk mengevakuasi ratusan kapal yang terjebak perang, langkah yang membuat Teheran geram.
Dengan belum adanya kepastian hukum tentang status Selat Hormuz pasca-perang, para pengamat memperkirakan volatilitas harga energi masih akan berlanjut. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia menghadapi potensi lonjakan harga minyak jika Iran benar-benar mengambil alih kendali penuh atas jalur pelayaran paling vital di dunia itu?



