Hue Gelontorkan Rp50 Miliar Selamatkan Tembok Bersejarah Istana Kekaisaran
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Hue mengalokasikan dana setara Rp50 miliar untuk merestorasi 2,4 kilometer tembok benteng Istana Kekaisaran yang rusak akibat cuaca ekstrem.
- Proyek tiga tahun (2026โ2028) ini merupakan bagian dari upaya pelestarian Situs Warisan UNESCO, menyusul ambruknya sebagian tembok pada November 2025.
- Vietnam gencar memugar peninggalan Dinasti Nguyen, termasuk Istana Can Chanh dan Akademi Kekaisaran, dengan total investasi lebih dari Rp400 miliar.

Pemerintah kota Hue, Vietnam, menggelontorkan dana sebesar VNฤ80 miliar (sekitar US$3,1 juta atau Rp50 miliar) untuk merestorasi tembok keliling Istana Kekaisaran yang merupakan bagian dari Kompleks Monumen Hue yang telah diakui UNESCO. Proyek yang dijadwalkan berlangsung dari 2026 hingga 2028 ini tidak hanya memperbaiki struktur bata yang lapuk, tetapi juga memperkuat tanggul batu dan pagar di sekitar Parit Kim Thuy.
Menurut Badan Pengelola Pusat Konservasi Monumen Hue, restorasi akan mencakup sekitar 2,4 kilometer dari total sistem tembok benteng. Istana Kekaisaran sendiri merupakan lapisan pertahanan kedua di dalam Benteng Hue, yang terletak di tepi utara Sungai Huong (Sungai Parfum). Selain fungsi militer, tembok ini melindungi istana kerajaan, kuil leluhur, dan Kota Terlarang Ungu dari Dinasti Nguyen. Setiap sisi tembok bata memiliki panjang sekitar 600 meter, tinggi empat meter, dan tebal satu meter, dikelilingi oleh sistem parit dan danau yang dikenal sebagai Parit Kim Thuy.
Paparan cuaca ekstrem selama berabad-abad telah meninggalkan banyak bagian tembok dalam kondisi memprihatinkan, terutama di sisi utara dan timur. Pada November 2025, sebuah bagian sepanjang 14,2 meter di Jalan Dang Thai Than, sekitar 180 meter di timur Gerbang Hoa Binh, runtuh setelah hujan lebat dan banjir pada akhir Oktober hingga awal November. Bagian yang rusak dengan tinggi rata-rata 4,3 meter itu telah diperbaiki dengan biaya sekitar VNฤ1,2 miliar (US$46.000) dan rampung pada awal Juni 2026.
Hue juga tengah menjalankan restorasi sejumlah situs warisan Dinasti Nguyen lainnya. Restorasi Istana Can Chanh (Aula Penonton Utama) di dalam Kota Terlarang Ungu dengan anggaran hampir VNฤ200 miliar (US$7,7 juta) ditargetkan selesai pada 2029. Sementara itu, pemugaran Quoc Tu Giam (Akademi Kekaisaran) yang terletak di sebelah kiri Istana Kekaisaran juga dijadwalkan rampung pada tahun yang sama. Proyek senilai VNฤ108 miliar (US$4,2 juta) itu mencakup restorasi Istana Di Luan (Aula Kuliah Utama), ruang belajar dan asrama siswa, serta Gerbang Tam Quan (Tiga Lengkung).
Di sisi lain, proyek restorasi dan konservasi adaptif Van Mieu (Kuil Sastra) di Kelurahan Kim Long dengan anggaran VNฤ132 miliar (US$5,1 juta) ditargetkan selesai pada 2028. Bagi Indonesia, upaya pelestarian warisan budaya Vietnam ini menjadi contoh bagaimana negara tetangga mengalokasikan anggaran besar untuk menjaga situs bersejarah. Dengan nilai investasi yang setara dengan proyek revitalisasi kawasan kota tua di beberapa daerah di Indonesia, langkah Hue menunjukkan komitmen serius terhadap pelestarian identitas budaya di tengah tekanan pembangunan dan perubahan iklim.
Ke depan, keberhasilan proyek ini akan menjadi tolok ukur bagi manajemen situs warisan di kawasan Asia Tenggara. Apakah Vietnam mampu mempertahankan keaslian arsitektur Dinasti Nguyen sambil mengadaptasi teknologi konservasi modern? Ataukah tekanan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akan terus mengancam warisan berusia ratusan tahun ini?



