Empat Peserta Program SPPI Meninggal saat Pendidikan, Kemhan Lakukan Evaluasi Total
Baca dalam 60 detik
- Muhammad Rifki Renaldi Gunawan menjadi korban keempat program SPPI Kopdes Merah Putih yang meninggal saat pendidikan di Yon Parako 465.
- Kementerian Pertahanan mengakui adanya kelemahan dalam prosedur kesehatan dan berjanji memperketat seleksi serta pengawasan medis.
- Tiga peserta sebelumnya meninggal akibat heat stroke dan henti jantung, memicu pertanyaan tentang keselamatan pelatihan.

Empat peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMKP) dilaporkan meninggal dunia selama mengikuti pendidikan, dengan korban terakhir Muhammad Rifki Renaldi Gunawan yang menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa pada Jumat (26/6) dini hari.
Rifki, yang menjalani pendidikan di Batalyon Para Komando 465, mulai mengeluhkan sesak napas pada 25 Juni. Tim kesehatan satuan memberikan penanganan awal dan kondisinya sempat membaik sehingga ia kembali beraktivitas. Namun, pada sore hari kesehatannya menurun drastis hingga harus dirujuk ke rumah sakit dan dirawat di ICU. Berbagai upaya medis dilakukan, tetapi nyawanya tak tertolong pada pukul 00.28 WIB.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyampaikan belasungkawa dan menegaskan bahwa Rifki telah lolos seleksi kesehatan sebelum mengikuti pendidikan. "Kami telah memberikan pendampingan kepada keluarga, termasuk pengantaran jenazah ke daerah asal dan pemenuhan hak-hak peserta sesuai ketentuan," ujarnya dalam keterangan pers.
Kasus ini menambah daftar panjang kematian peserta SPPI. Sebelumnya, pada Selasa (23/6), Kemhan mengonfirmasi dua peserta meninggal: Anisa Muyassaroh di Balikpapan akibat serangan panas (heat stroke) dan Yonanda Muhammad Taufiq di Baturaja karena henti jantung. Keesokan harinya, Novia Rahmadhani Sihotang menyusul saat mengikuti pendidikan di Pusat Bahasa Kodiklatau Jakarta. Total empat orang meninggal dalam kurun waktu kurang dari dua pekan.
Pemerintah melalui Kemhan dan Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) mengumumkan langkah evaluasi menyeluruh. Langkah tersebut meliputi penguatan seleksi kesehatan, deteksi dini kondisi medis, peningkatan pengawasan tenaga kesehatan selama pendidikan, penelusuran terhadap peserta dengan keluhan serupa, serta penyempurnaan prosedur penanganan kesehatan di seluruh satuan pendidikan. "Kami berkomitmen memastikan keamanan peserta melalui perbaikan sistem," kata Rico.
Program SPPI sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk mencetak sarjana penggerak pembangunan di desa dan kampung nelayan. Peserta mengikuti pelatihan militer dasar (latsarmil) secara sukarela setelah melalui seleksi ketat. Namun, rentetan kematian ini memunculkan pertanyaan serius tentang keselamatan pelatihan dan efektivitas pemeriksaan kesehatan awal. Apakah prosedur yang ada sudah cukup untuk melindungi peserta dari risiko medis yang fatal? Evaluasi yang dijanjikan Kemhan akan menjadi ujian kredibilitas program ini ke depan.



