Gempa M6,7 Guncang Sangihe: BPBD Pastikan Belum Ada Kerusakan, Warga Diimbau Tenang
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi magnitudo 6,7 mengguncang Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Jumat malam, tanpa laporan kerusakan berarti.
- BMKG mengonfirmasi gempa dangkal akibat subduksi Lempeng Laut Filipina dengan mekanisme geser, tidak berpotensi tsunami.
- BPBD setempat mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap gempa susulan dan tidak termakan informasi palsu.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang perairan utara Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Jumat (26/6) malam, hingga kini belum menimbulkan laporan kerusakan atau korban jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memastikan situasi terkendali dan mengimbau warga tidak panik.
Kepala BPBD Sulawesi Utara, Adolf H Tamengkel, menyatakan pihaknya belum menerima laporan dampak kerusakan dari Kabupaten Kepulauan Sangihe. "Tidak ada laporan," ujarnya singkat saat dikonfirmasi, Jumat malam. Senada, Kepala BPBD Sangihe, Wandu Labesi, menegaskan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Ia meminta masyarakat menghindari bangunan yang sudah retak atau tidak kokoh untuk mencegah korban jiwa.
Gempa terjadi pukul 19.34 WITA dengan pusat di laut 200 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, pada kedalaman 31 kilometer. Menurut Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, gempa ini termasuk jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Laut Filipina. "Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip)," jelasnya dalam keterangan resmi.
Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah. Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), intensitas V MMI tercatat di Kepulauan Marore dan Kepulauan Sangihe, sementara skala IV MMI melanda Kendahe, Miangas, dan Kepulauan Talaud. Di Kota Tahuna, Melonguane, dan Ondong, guncangan mencapai III-IV MMI, sedangkan di Manado dan Airmadidi masing-masing III dan II-III MMI. Meski getaran terasa hingga Manado, belum ada laporan kerusakan berarti.
Wandu Labesi mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. "Kami imbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada," katanya. Ia juga menekankan pentingnya menghindari bangunan yang retak atau tidak kokoh sebagai langkah antisipasi.
BMKG terus memantau aktivitas seismik di wilayah tersebut. Hingga saat ini, hasil pemodelan menunjukkan tidak ada potensi tsunami. Masyarakat diimbau mengikuti arahan resmi dari BPBD dan BMKG, serta tidak menyebarkan berita bohong yang dapat memicu kepanikan.
Ke depan, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Sulawesi Utara berada di kawasan rawan gempa. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah rangkaian gempa susulan akan terjadi dan seberapa besar dampak yang mungkin timbul jika guncangan lebih kuat melanda pemukiman padat penduduk.



