Mendagri Tito: Parade Tenun Belu Bukan Sekadar Pameran, Tapi Gerakan Ekonomi Daerah
Baca dalam 60 detik
- Mendagri Tito Karnavian menghadiri Parade Tenun dan Fashion Show di Belu, NTT, yang dinilai mampu menjaga warisan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
- Kegiatan ini melibatkan peserta dari SD hingga umum, menunjukkan bahwa tenun bisa menjadi identitas dan kebanggaan generasi muda.
- Tito mendorong promosi tenun Belu ke kancah internasional untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa perhelatan budaya seperti Parade Tenun dan Fashion Show di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar ajang pelestarian warisan leluhur, melainkan juga motor penggerak perekonomian daerah. Dalam kunjungannya ke Pelataran Mal Pelayanan Publik Timor-Atambua pada Jumat (26/6/2026), Tito menyaksikan langsung antusiasme masyarakat yang memadati acara bertajuk "Exotic Tenun: Parade Tenun dan Fashion Show" tersebut.
Menurut Tito, tradisi menenun yang dimiliki masyarakat Belu merupakan kekayaan budaya yang langka. Tidak semua daerah di Indonesia memiliki keterampilan serupa. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga warisan ini agar tidak diklaim pihak asing. "Jangan sampai nanti tenun kita diambil oleh orang luar negeri. Harus mempertahankan budaya, melalui festival acara-acara ini," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima media.
Lebih dari sekadar pelestarian, Tito melihat potensi ekonomi yang besar dari industri tenun. Ia menyebut bahwa kegiatan semacam ini mampu menghidupkan sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, hingga kuliner. "Saya yakin dengan adanya kegiatan ini hotel-hotel penuh, penerbangan juga penuh, restoran juga mungkin penuh. Banyak sekali yang bisa dibangkitkan," katanya optimistis.
Kegiatan ini juga menjadi wadah aktualisasi bagi para desainer dan seniman lokal. Tito mengapresiasi kreativitas yang ditampilkan dalam fashion show, yang menurutnya tidak kalah dengan daerah lain yang mengandalkan keindahan alam. "Ada tempat mengaktualisasikan diri bagi para jagoan-jagoan seni, desainer tenun," pujinya. Ia juga menyoroti partisipasi para pelajar yang tampil percaya diri mengenakan busana berbahan tenun lokal, sebuah kebanggaan bagi orang tua dan sekolah.
Bagi Indonesia, khususnya NTT, pengembangan industri tenun memiliki implikasi strategis. Di tengah gempuran produk tekstil impor, tenun tradisional menjadi komoditas bernilai tinggi yang bisa memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tito berharap kegiatan serupa terus ditingkatkan dan dipromosikan hingga ke panggung dunia, sehingga Belu tidak hanya dikenal sebagai daerah perbatasan, tetapi juga pusat kreativitas dan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keberlanjutan gerakan ini. Apakah pemerintah daerah mampu membangun ekosistem yang mendukung perajin tenun, mulai dari hulu hingga hilir? Atau akankah parade ini hanya menjadi seremonial tahunan tanpa dampak ekonomi yang signifikan? Jawabannya bergantung pada komitmen semua pihak untuk menjadikan tenun sebagai urat nadi ekonomi baru di tanah Belu.



