Memanas Lagi: Harga Minyak Terbang Imbas Serangan Balik AS-Iran di Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI kompak naik lebih dari 0,6% pada awal pekan setelah militer AS kembali menyerang target Iran di sekitar Selat Hormuz.
- Serangan terbaru dipicu serangan drone Iran ke kapal tanker Panama M/T Kiku yang membawa 2 juta barel minyak mentah.
- Eskalasi ini berpotensi mengerek biaya impor energi Indonesia dan memperkuat tekanan inflasi di tengah pelemahan rupiah.

Harga minyak mentah dunia melonjak pada Senin pagi setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling serang di kawasan Selat Hormuz, mengancam kelancaran jalur suplai energi global. Brent crude naik 52 sen (0,67%) ke 72,51 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melesat 71 sen (1,03%) ke 69,94 dolar AS per barel.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran pada 27 Juni lalu atas perintah langsung presiden. Langkah ini merupakan respons atas serangan drone Iran yang menghantam kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku, saat melintas di dekat Selat Hormuz dengan muatan lebih dari 2 juta barel minyak mentah. Menurut CENTCOM, Iran telah diberi kesempatan untuk mematuhi gencatan senjata setelah serangan AS sehari sebelumnya, namun memilih untuk melanjutkan agresi.
Serangan udara AS kali ini menyasar infrastruktur pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, pertahanan udara, gudang drone, serta kemampuan penyebaran ranjau. Meski demikian, CENTCOM menegaskan bahwa lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz tetap berjalan dan pasukan AS โtetap waspada, mematikan, dan siap.โ
Seorang pejabat tinggi pertahanan AS yang dikutip Fox News mengungkapkan bahwa Iran telah merekonstitusi sistem pertahanan udara dan rudalnya di sepanjang Selat Hormuz setelah gencatan senjata 7 April. Hal inilah yang memaksa AS untuk kembali menyerang area seperti Pulau Qeshm dan Sirik yang sebelumnya sudah menjadi sasaran. โBanyak yang rusakโฆ sangat banyakโฆ tapi mereka memindahkan semuanya,โ ujar pejabat tersebut.
Eskalasi ini terjadi di tengah tekanan yang sudah dialami pasar komoditas pekan lalu. Indeks dolar AS melonjak ke level tertinggi dalam 13 bulan setelah sikap hawkish Federal Reserve yang menegaskan akan mempertahankan suku bunga tinggi demi mengendalikan inflasi. Akibatnya, harga emas spot anjlok 1,61% ke 4.088 dolar AS per ons, perak ambles 8,86% ke 59,15 dolar AS per ons, dan minyak mentah mencatat penurunan mingguan terdalam dalam beberapa bulan terakhir.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz menjadi alarm tersendiri. Sebagai importir minyak mentah netto, setiap kenaikan harga minyak global akan langsung membebani anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Apalagi, nilai tukar rupiah yang terus tertekan membuat biaya impor semakin mahal. Jika konflik berlanjut, pemerintah mungkin harus menyesuaikan harga bahan bakar minyak dalam negeri atau memperbesar kompensasi ke Pertamina.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah gencatan senjata dapat kembali tercipta atau justru berujung pada konfrontasi terbuka yang lebih luas. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia, masih menjadi titik paling rawan dalam rantai pasok energi global. Pertanyaannya, sejauh mana negara-negara konsumen, termasuk Indonesia, siap menghadapi potensi gangguan pasokan yang lebih parah?



