Laba BRI Tembus Rp20,42 Triliun hingga Mei 2026, Kredit Tumbuh Dua Digit
Baca dalam 60 detik
- PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) membukukan laba bersih bank only Rp20,42 triliun per Mei 2026, tumbuh 9,52% year-on-year.
- Pertumbuhan laba ditopang oleh penurunan beban bunga 14,4% dan ekspansi kredit 12,23% menjadi Rp1.417 triliun.
- Total aset BRI menembus Rp2.073 triliun, menegaskan posisinya sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan laba bersih bank only sebesar Rp20,42 triliun pada periode Januari–Mei 2026, meningkat 9,52% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menunjukkan daya tahan emiten pelat merah di tengah tekanan margin bunga perbankan nasional.
Berdasarkan laporan keuangan bulanan yang dipublikasikan, pendapatan bunga bersih BRI tumbuh 6,64% year-on-year menjadi Rp48,50 triliun. Meski pendapatan operasional utama turun tipis 0,07% menjadi Rp66,77 triliun, efisiensi biaya dana menjadi katalis utama. Beban bunga berhasil ditekan hingga Rp18,26 triliun, turun 14,4% dari Rp21,33 triliun pada Mei 2025. Alhasil, rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio) membaik secara signifikan.
Dari sisi intermediasi, BRI menyalurkan kredit sebesar Rp1.417,19 triliun per Mei 2026, tumbuh 12,23% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh segmen mikro dan kecil yang menjadi tulang punggung bisnis perseroan. Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.546,44 triliun, naik 8,6% dari Rp1.423,87 triliun, dengan komposisi dana murah (CASA) yang masih dominan.
Pada kuartal I-2026, BRI juga mencatatkan laba konsolidasi Rp15,5 triliun, naik 13,74% yoy. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp47,09 triliun yang menjangkau 947 ribu debitur, sementara Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) disalurkan Rp17,13 triliun kepada 125 ribu nasabah. Angka ini menegaskan peran BRI dalam mendorong program pemerintah di sektor UMKM dan perumahan.
Bagi investor di pasar modal Indonesia, kinerja BRI menjadi barometer sektor perbankan. Dengan kapitalisasi pasar yang besar, saham BBRI kerap menjadi pilihan utama investor asing dan domestik. Pertumbuhan laba dua digit di tengah tren suku bunga tinggi menunjukkan kemampuan manajemen dalam mengelola biaya dana dan memperluas basis kredit secara selektif.
Ke depan, BRI diperkirakan akan terus memanfaatkan jaringan luasnya di daerah untuk mengerek pertumbuhan kredit mikro dan kecil. Namun, tekanan terhadap kualitas aset perlu diwaspadai, terutama jika kondisi ekonomi global memburuk. Apakah BRI mampu mempertahankan momentum pertumbuhan laba di atas 9% hingga akhir tahun? Pasar akan mencermati laporan semester I-2026 yang akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang.



