Jepang Tambah Dana 1,027 Miliar Yen untuk Perluasan Bandara Wattay Laos
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang mengucurkan tambahan 1,027 miliar yen (sekitar US$6,48 juta) untuk proyek peningkatan Bandara Internasional Wattay di Vientiane, Laos, menyusul kenaikan biaya akibat inflasi.
- Total hibah Jepang untuk proyek ini naik dari 2,836 miliar yen menjadi 3,863 miliar yen, dengan penandatanganan nota kesepahaman revisi pada 5 Agustus 2026.
- Langkah ini menegaskan komitmen jangka panjang Jepang dalam pembangunan infrastruktur Laos, sekaligus menjadi sinyal bagi investor asing tentang stabilitas proyek di kawasan ASEAN.

Pemerintah Jepang kembali menambah suntikan dana untuk proyek modernisasi Bandara Internasional Wattay di Vientiane, Laos. Kali ini, tambahan anggaran sebesar 1,027 miliar yen atau setara US$6,48 juta dialokasikan untuk memastikan kelancaran pembangunan di tengah tekanan inflasi dan lonjakan biaya pengadaan.
Penandatanganan nota kesepahaman revisi dilakukan pada 5 Agustus 2026 di Kementerian Luar Negeri Laos. Wakil Menteri Luar Negeri Laos, Anouparb Vongnorkeo, dan Duta Besar Jepang untuk Laos, Koizumi Tsutomu, hadir sebagai perwakilan kedua negara. Dengan tambahan ini, total hibah Jepang untuk proyek tersebut naik dari 2,836 miliar yen yang disepakati pada 2024 menjadi 3,863 miliar yen (sekitar US$26,5 juta).
Proyek yang digarap sejak tahun lalu ini mencakup perluasan terminal penumpang internasional, perbaikan taxiway dan perkerasan apron, serta pemasangan sistem pencahayaan lapangan terbang baru. Semua pekerjaan itu diharapkan mampu meningkatkan pelayanan penumpang, memperkuat keselamatan penerbangan, dan menambah kapasitas bandara untuk menampung lonjakan jumlah wisatawan yang terus meningkat.
Dalam sambutannya, Anouparb menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan Jepang yang dinilainya berkontribusi signifikan terhadap pembangunan sosial-ekonomi Laos, khususnya di sektor infrastruktur dan penerbangan. Ia juga menyampaikan belasungkawa atas gempa bumi dahsyat yang melanda Prefektur Kumamoto pada 28 Juli lalu. Sementara itu, Duta Besar Koizumi menegaskan komitmen Jepang untuk terus mempererat kemitraan strategis komprehensif dengan Laos, yang diharapkan membawa manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin bagaimana Jepang serius mendukung konektivitas udara di kawasan ASEAN. Dengan meningkatnya lalu lintas udara di Asia Tenggara, modernisasi bandara seperti Wattay berpotensi memperlancar arus perdagangan dan pariwisata regional. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia memperkuat infrastruktur bandara untuk menarik investasi dan wisatawan asing.
Ke depan, keberlanjutan proyek ini akan menjadi indikator penting bagi kepercayaan investor terhadap iklim pembangunan di Laos. Pertanyaannya, apakah negara-negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, dapat menarik minat serupa dari mitra internasional untuk mempercepat modernisasi infrastruktur vital mereka?



