WCA Sambut Lahirnya Asosiasi Pemain Sri Lanka: Tonggak Baru Profesionalisme Kriket Asia Selatan
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Profesional Pemain Kriket Sri Lanka resmi berdiri, dengan Kusal Mendis sebagai presiden perdana.
- Langkah ini dinilai memperkuat posisi tawar pemain di tengah reformasi yang digagas komite pemerintah.
- Dengan bergabungnya Sri Lanka, hanya India dan Pakistan yang belum terafiliasi dengan WCA.

Kolombo โ Organisasi pemain kriket dunia, World Cricketers' Association (WCA), menyambut positif pembentukan wadah resmi pemain profesional di Sri Lanka. Langkah ini dinilai sebagai tonggak penting bagi tumbuhnya profesionalisme dan keberlanjutan olahraga tersebut di negara Asia Selatan itu.
Asosiasi Profesional Pemain Kriket Sri Lanka (SLPCA) secara resmi diluncurkan pada Sabtu lalu. Kapten tim nasional untuk format white-ball, Kusal Mendis, dipercaya menjadi presiden perdana. Kehadiran organisasi ini tidak lepas dari proses reformasi yang tengah berlangsung di tubuh Sri Lanka Cricket (SLC), yang digawangi oleh komite bentukan pemerintah.
Dalam pernyataan resminya, Senin, CEO WCA Tom Moffat menegaskan bahwa kekuatan sebuah pertandingan sangat berkaitan erat dengan representasi pemain yang solid. "Kriket akan berkembang apabila para pemain memiliki suara yang otentik dalam menentukan masa depannya. Dengan bersatu, pemain Sri Lanka telah menunjukkan komitmen mendalam terhadap kesehatan jangka panjang, integritas, dan kemajuan profesional olahraga ini," ujarnya.
Dukungan juga datang dari kapten tim wanita, Chamari Athapaththu. Ia menilai asosiasi ini akan memperkuat posisi pemain, terutama dalam negosiasi dengan dewan kriket terkait izin tampil di liga franchise. Sebelumnya, banyak pemain Sri Lanka kerap menghadapi kendala birokrasi ketika ingin merumput di turnamen seperti Indian Premier League (IPL) atau liga-liga lainnya.
Dengan terbentuknya SLPCA, kini 17 dari 19 negara kriket teratas di dunia telah memiliki afiliasi dengan WCA. Dua negara yang belum bergabung adalah India dan Pakistan, dua raksasa kriket yang selama ini memiliki dinamika internal yang kompleks. Hal ini menempatkan Sri Lanka sejajar dengan negara-negara maju kriket lainnya seperti Australia, Inggris, dan Afrika Selatan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga. Meski kriket belum sepopuler sepak bola atau bulu tangkis, olahraga ini mulai mendapat perhatian serius di tanah air. Pembentukan asosiasi pemain yang kuat dapat menjadi katalis bagi peningkatan kesejahteraan atlet dan transparansi pengelolaan organisasi olahraga. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia justru memiliki potensi besar untuk mengembangkan kriket, terutama dengan dukungan pemerintah dan federasi internasional.
Kehadiran SLPCA juga menyoroti tren global di mana atlet semakin sadar akan hak dan posisi tawar mereka. Dari kriket hingga sepak bola, organisasi pemain menjadi kekuatan yang tidak bisa diabaikan. Di Indonesia, wacana serupa mulai mengemuka di beberapa cabang olahraga, meski masih dalam tahap awal. Pertanyaannya, mampukah Indonesia belajar dari langkah Sri Lanka untuk membangun ekosistem olahraga yang lebih sehat dan berkelanjutan?



