Jerman Tersandung di Fase Grup: Nagelsmann Evaluasi Kekalahan dari Ekuador
Baca dalam 60 detik
- Jerman takluk 1-2 dari Ekuador pada laga pamungkas Grup A Piala Dunia 2026, meski unggul cepat lewat gol Leroy Sane.
- Pelatih Julian Nagelsmann mengakui tim kehilangan kendali setelah unggul dan akan melakukan evaluasi jelang babak 32 besar.
- Jerman akan menghadapi salah satu peringkat ketiga terbaik pada Senin di Stadion Boston, dengan starting XI masih belum dipastikan.

Kekalahan perdana Jerman di Piala Dunia 2026 justru datang saat mereka sudah memastikan tiket ke babak gugur. Tim Panser dibungkam Ekuador 1-2 di Stadion MetLife, New Jersey, Kamis (25/6) waktu setempat, dalam laga yang sejatinya tidak menentukan nasib mereka di turnamen.
Julian Nagelsmann, manajer Jerman, enggan larut dalam kekecewaan. Ia memilih fokus pada persiapan menghadapi laga hidup-mati di babak 32 besar, Senin pekan depan di Stadion Boston. “Kami harus belajar dari kekalahan ini dan segera bangkit. Yang terpenting adalah bagaimana kami memulai pertandingan nanti dengan baik,” ujarnya dalam konferensi pers usai laga.
Jerman sebenarnya memulai pertandingan dengan gemilang. Leroy Sane, yang kerap dikritik karena inkonsistensinya, mencetak gol pada menit kedua—gol pertamanya di Piala Dunia edisi ini. Namun, keunggulan cepat itu justru membuat Jerman kehilangan ritme. Ekuador berhasil membalikkan keadaan melalui dua gol balasan sebelum turun minum.
Nagelsmann menyoroti hilangnya kendali setelah unggul sebagai masalah utama. “Saat Anda memulai dengan baik dan unggul, Anda harus sabar menemukan ruang untuk membangun serangan. Hari ini kami kehilangan kendali setelah unggul,” katanya. Ia menambahkan tim perlu lebih tenang dan aktif dalam situasi tertentu untuk menghindari kehilangan keunggulan serupa di masa depan.
Pelatih berusia 38 tahun itu melakukan sejumlah pergantian pemain, termasuk menarik Aleksandar Pavlovic pada babak pertama dan Felix Nmecha di menit ke-64. Meski demikian, ia enggan mengkritik performa kedua gelandang tersebut. “Itulah masalah sebagai pelatih—Anda memasukkan satu pemain, Anda melepas yang lain. Felix dan Pavlo tampil sangat baik, mereka memberi awal yang bagus bagi tim. Saya tidak berencana mencadangkan salah satu dari mereka,” tegas Nagelsmann.
Mengenai susunan pemain untuk laga selanjutnya, Nagelsmann masih enggan memberi kepastian. “Kami akan melihat sesi latihan pada hari Minggu dan membuat keputusan baru. Kami akan lihat siapa yang akan menjadi starter,” ujarnya diplomatis.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kekalahan Jerman ini menjadi pengingat bahwa di Piala Dunia tidak ada tim yang kebal terhadap kejutan. Ekuador, yang sebelumnya dianggap sebagai tim lemah, mampu mengalahkan raksasa Eropa. Hal ini menunjukkan bahwa persiapan matang dan taktik yang tepat bisa mengalahkan reputasi. Timnas Indonesia, yang tengah berjuang meningkatkan peringkat FIFA, bisa menjadikan laga ini sebagai contoh bahwa kerja keras dan disiplin taktis mampu menyaingi tim-tim besar.
Dengan satu laga tersisa di fase grup, Jerman masih memiliki peluang untuk bangkit. Namun, jika pola kehilangan kendali setelah unggul terus berulang, mimpi Jerman untuk merebut gelar kelima bisa kandas lebih awal. Mampukah Nagelsmann meramu strategi yang tepat untuk menghadapi lawan yang tidak dikenal di babak gugur?



