Kolektor Singapura Mulai Jual Koleksi Mahal untuk Bertahan di Tengah Biaya Hidup yang Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Jumlah kolektor yang menjual barang koleksi seperti kartu Pokemon dan komik naik hingga 50% di Singapura, didorong kebutuhan likuiditas untuk biaya hidup.
- Transaksi bisa selesai dalam 10 menit dengan nilai ratusan hingga puluhan ribu dolar, menjadikan koleksi sebagai aset alternatif yang cair.
- Meski banyak yang menjual, permintaan tetap kuat karena faktor nostalgia dan daya beli generasi yang kini dewasa; risiko pemalsuan masih menjadi tantangan.

Di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat, semakin banyak kolektor di Singapura yang memilih melepas barang koleksi berharganya—mulai dari kartu Pokemon hingga komik lawas—demi mendapatkan dana segar untuk kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu jenis barang, melainkan merambah ke berbagai kategori koleksi seperti patung Bearbrick dan kartu dagang.
Menurut para pelaku industri, jumlah kolektor yang ingin menjual barang koleksinya naik signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sugoi Collection, toko mainan dan koleksi di Orchard Central, mencatat lonjakan penjual hingga 50% dibandingkan empat tahun lalu. Pendiri toko tersebut, Shawn Xu, mengungkapkan bahwa banyak penjual adalah pasangan muda yang ingin mencairkan aset dari barang yang tidak lagi mereka kumpulkan secara aktif. “Sekarang, karena biaya hidup naik, orang hanya membeli apa yang benar-benar mereka nikmati, dan mereka cenderung menawar harga,” ujarnya.
Tren serupa juga terlihat di kalangan pedagang kartu dagang. Shane Collectibles and Consignment dan SC Collection melaporkan kenaikan jumlah kolektor yang menjual kartu sekitar 30% dalam beberapa tahun terakhir. Pemilik Shane Collectibles, Malcolm Wong, menyebutkan bahwa penjual umumnya berusia 20–40 tahun dan termotivasi oleh kebutuhan finansial praktis, seperti uang muka rumah, biaya renovasi, pernikahan, atau kebutuhan arus kas bisnis. Bahkan, ada kasus pekerja yang di-PHK menjual koleksinya untuk bertahan hidup sambil mencari pekerjaan baru, seperti diungkapkan oleh Chong Yong, pemilik SC Collection.
Kecepatan konversi menjadi uang tunai menjadi daya tarik utama koleksi ini. Transaksi bisa berkisar dari beberapa ratus hingga puluhan ribu dolar, dengan proses autentikasi dan pembayaran yang bisa selesai hanya dalam 10 menit. Malcolm Wong mencontohkan kartu Pikachu yang dibelinya seharga S$3.500 dan kemudian dijual S$6.500, meskipun pernah mencapai harga tertinggi S$35.000. Saat ini, kartu termahal di tokonya bernilai S$15.000, sementara yang termurah hanya S$1.
Namun, menjual bukan berarti kehilangan minat terhadap hobi. Malcolm Wong menekankan bahwa banyak kolektor yang secara emosional terikat dengan koleksinya dan hanya mengalokasikan ulang modal sementara. Beberapa bahkan kembali membeli barang yang pernah dijual setelah kondisi keuangan membaik. “Ketika mereka butuh uang, mereka jual dulu. Nanti mereka beli lagi saat punya lebih banyak uang,” kata Chong Yong.
Di dunia komik, kolektor Kieyron Maldin melihat peningkatan 45% orang yang melepas buku berharga dalam dua tahun terakhir. Ia sendiri telah menjual komiknya dan mendapatkan sekitar S$600 dalam setahun. Banyak pembeli dan penjual adalah pelajar, anggota wajib militer, dan dewasa muda yang berusaha menyeimbangkan hobi dengan pengeluaran sehari-hari. Meski komik biasa hanya bernilai beberapa dolar, edisi langka dari tahun 1970-an hingga 1990-an bisa terjual ribuan dolar.
Di sisi lain, permintaan tetap kuat. Chong Yong mencatat merek seperti Pokemon, One Piece, Disney, dan League of Legends terus menarik pembeli karena ikatan emosional dan faktor nostalgia. “Banyak orang tumbuh dengan waralaba besar ini, dan sekarang mereka punya daya beli,” ujarnya. Shane Collectibles menangani hingga 1.000 transaksi per bulan, dengan pembeli dari Indonesia hingga Arab Saudi. Namun, pemalsuan masih menjadi tantangan besar, sehingga banyak pembeli lebih memilih toko fisik untuk verifikasi langsung.
Meskipun ada optimisme jangka panjang, para peritel mengingatkan agar tidak melihat koleksi semata-mata sebagai investasi. Chong Yong memperingatkan bahwa pendatang baru yang membeli hanya karena harga naik berisiko mengalami kerugian saat permintaan melambat. “Sifat hobi ini adalah untuk dikoleksi, dibagikan dengan teman, dan dimainkan. Bukan dirancang sebagai investasi,” tegasnya.
Ke depan, siklus pasar diperkirakan akan terus berlanjut. Shawn Xu percaya bahwa setelah titik terendah, harga Labubu dan Bearbrick bisa kembali naik dalam satu hingga dua tahun berkat strategi terstruktur dari pemilik merek. Namun, pertanyaan yang tersisa adalah: akankah para kolektor Indonesia juga mengikuti tren serupa di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat?



