Wall Street Terbelah: Saham Chip Menguat, Valuasi AI Mulai Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Saham produsen chip seperti Micron dan Qualcomm melonjak setelah laporan keuangan solid, tetapi aksi jual pada saham teknologi raksasa seperti Apple dan Microsoft menahan indeks Nasdaq.
- Kekhawatiran valuasi sektor AI yang dinilai terlalu tinggi, ditambah ekspektasi suku bunga tinggi dari Federal Reserve, memicu volatilitas di pasar global.
- Dolar AS masih bertahan di dekat level tertinggi setahun, sementara yen Jepang tertekan ke titik terlemah dalam 40 tahun, meningkatkan spekulasi intervensi Bank of Japan.

Pasar saham global mencatat kenaikan tipis pada Kamis (25/6) didorong oleh lonjakan saham produsen chip, namun kekhawatiran valuasi perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang sudah terlampau tinggi membuat indeks utama Wall Street bergerak mixed. Di tengah optimisme sesaat, tekanan dari prospek suku bunga tinggi masih membayangi.
Indeks S&P 500 ditutup flat, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,14 persen berkat penguatan saham sektor industri, kesehatan, dan material. Namun, Nasdaq Composite justru terperosok 0,46 persen setelah saham-saham teknologi berkapitalisasi besar mengalami aksi jual. Apple ambles 6,1 persen dan Microsoft kehilangan 3,5 persen dalam sehari.
Di sisi lain, saham produsen memori Micron Technology melesat 15,7 persen setelah memberikan proyeksi pendapatan yang solid, memperpanjang rally yang digerakkan oleh AI. Qualcomm juga naik 3,8 persen setelah mengumumkan target pendapatan bisnis pusat datanya mencapai 15 miliar dolar AS per tahun pada 2029.
Menurut Marc Dizard, Chief Investment Officer di Huntington Wealth Management, valuasi sektor teknologi saat ini berada sekitar 2,8 standar deviasi di atas rata-rata historis sejak 2000. "Ketika Anda melihat besarnya pergerakan itu, tidak mengherankan jika terjadi jeda, konsolidasi, dan rebalancing di mana investor mengambil untung," ujarnya. Dizard juga menambahkan bahwa teknologi adalah aset berdurasi panjang, sehingga saat Federal Reserve bersikap hawkish, aset semacam itu cenderung mengalami tekanan jual dalam jangka pendek.
Di Eropa, indeks STOXX 600 naik 0,80 persen, sementara indeks global MSCI menguat 0,37 persen. Pasar Asia juga mencatat kenaikan moderat seiring sentimen positif dari sektor semikonduktor.
Dari sisi makro, data inflasi AS menunjukkan laju tahunan menembus 4 persen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, didorong oleh kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah. Namun, angka bulanan sedikit di bawah ekspektasi, yang membantu menekan imbal hasil obligasi. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 0,59 basis poin ke 4,394 persen, sementara tenor 2 tahun turun 1,2 basis poin ke 4,125 persen.
Di pasar komoditas, harga minyak Brent naik 2 persen ke 75,26 dolar AS per barel, meskipun masih mendekati level sebelum perang AS-Israel dengan Iran. Ekspektasi peningkatan pasokan dari Timur Tengah menahan kenaikan lebih lanjut.
Di pasar valuta, dolar AS melemah tipis terhadap mata uang utama lainnya, namun masih bertahan di dekat level tertinggi dalam setahun. Euro diperdagangkan di 1,137 dolar AS, sedikit di atas level terendah 13 bulan. Yen Jepang stagnan di 161,80 per dolar AS, mendekati level terlemah dalam 40 tahun, memicu spekulasi intervensi dari Bank of Japan setelah upaya sebelumnya pada Mei gagal membendung pelemahan.
Bagi Indonesia, pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi global menjadi sinyal yang perlu dicermati. Penguatan dolar berpotensi menekan rupiah dan meningkatkan beban utang luar negeri, sementara kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat memicu arus modal keluar dari pasar emerging market. Di sisi lain, koreksi saham teknologi global bisa berdampak pada sektor startup digital di dalam negeri yang valuasinya masih bergantung pada sentimen eksternal.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi AS berikutnya serta pernyataan pejabat Federal Reserve untuk mengonfirmasi arah suku bunga. Apakah rally saham AI masih memiliki ruang untuk berlanjut, atau justru akan terkoreksi lebih dalam? Jawabannya akan menentukan arah pasar global dalam beberapa pekan ke depan.



