Tottenham Berburu Remaja Blackburn dengan 100 Kontribusi Gol: Target Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur dikabarkan serius mengejar Tyler Livesey, pemain muda Blackburn Rovers yang mencatat lebih dari 100 kontribusi gol musim lalu.
- Manchester United, Manchester City, dan Liverpool juga ikut dalam perburuan, menjadikan Livesey sebagai salah satu prospek akademi paling diminati di Inggris.
- Langkah ini menunjukkan strategi Tottenham yang tak hanya fokus pada pemain bintang, tetapi juga investasi jangka panjang melalui talenta muda.

Tottenham Hotspur belum selesai berbelanja. Setelah mendatangkan sejumlah pemain senior, klub London Utara itu kini mengarahkan radar ke talenta muda Liga Championship Inggris: Tyler Livesey, remaja Blackburn Rovers yang musim lalu mengumpulkan lebih dari 100 kontribusi gol di level akademi.
Menurut jurnalis TEAMtalk Graeme Bailey, Tottenham 'pushing hard' untuk mengamankan tanda tangan Livesey. Angka fantastis itu—gabungan gol dan assist—membuat pemain berusia 17 tahun tersebut menjadi incaran sejumlah raksasa Premier League. Manchester United, Manchester City, dan Liverpool disebut-sebut juga memantau perkembangannya.
Livesey bukanlah nama asing di kalangan pengamat sepak bola junior Inggris. Ia tampil menonjol di berbagai kelompok umur Blackburn, menunjukkan fleksibilitas sebagai penyerang sayap atau gelandang serang. Catatan 100 kontribusi gol dalam satu musim adalah pencapaian langka yang langsung menaikkan pamornya.
Ketertarikan Tottenham pada Livesey sejalan dengan strategi klub yang mulai serius membangun jalur akademi. Di bawah manajer Roberto De Zerbi, Spurs tak hanya memburu pemain siap pakai seperti Mateus Fernandes (West Ham) dan Sandro Tonali (Newcastle), tetapi juga prospek jangka panjang. Langkah ini mengingatkan pada pendekatan klub-klub top Eropa yang mulai agresif merekrut bakat belia sebelum harganya melambung.
Bagi Blackburn, kepergian Livesey akan menjadi pukulan, namun klub Championship itu sudah terbiasa kehilangan bintang mudanya. Sebelumnya, Adam Wharton dilepas ke Crystal Palace dengan nilai transfer mencapai £100 juta. Kini, Livesey berpotensi mengikuti jejak serupa, meski persaingan ketat antar klub papan atas bisa mendongkrak harga jualnya.
Dari sisi persaingan, kehadiran Manchester United dan Liverpool membuat Tottenham harus bergerak cepat. Kedua klub tersebut memiliki sejarah panjang dalam merekrut pemain muda Inggris. Namun, Spurs punya daya tarik tersendiri: proyek De Zerbi yang ofensif dan peluang menit bermain lebih besar di tim utama dibandingkan jika Livesey bergabung dengan City yang memiliki banyak pemain bintang.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perburuan Livesey menjadi pengingat bahwa investasi pada pemain muda adalah kunci keberlanjutan klub. Di tengah gempuran transfer pemain mahal, strategi merekrut bakat akademi seperti yang dilakukan Tottenham bisa menjadi contoh bagi klub-klub Liga Indonesia yang mulai serius mengembangkan pusat pelatihan.
Pertanyaan selanjutnya: akankah Livesey memilih Tottenham yang sedang membangun, atau lebih memilih klub dengan tradisi juara seperti Manchester United? Atau justru Blackburn bisa mempertahankannya lebih lama? Keputusan dalam beberapa pekan mendatang akan menentukan arah karier remaja yang musim lalu menjadi mimpi buruk bagi setiap bek lawan.



