Retak di Stasiun Luar Angkasa Internasional: Seberapa Darurat Kebocoran Udara yang Mengancam Kru?
Baca dalam 60 detik
- NASA memerintahkan lima astronaut berlindung di kapsul Crew Dragon pada 5 Juni 2026 setelah kebocoran udara di modul Zvezda Rusia memburuk, menimbulkan kekhawatiran akan kegagalan struktural.
- Perbedaan penilaian risiko antara NASA dan Roscosmos memperumit upaya perbaikan, dengan rencana penggunaan gergaji untuk memotong braket struktural sempat memicu evakuasi.
- Masa depan ISS bergantung pada kesiapan stasiun komersial pengganti seperti Haven-2, yang ditargetkan rampung pada 2032, bertepatan dengan perpanjangan operasi ISS hingga tahun yang sama.

Pada 5 Juni 2026, NASA memerintahkan lima astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk berlindung di dalam kapsul SpaceX Crew Dragon yang merapat, bersiap meninggalkan stasiun jika terjadi keadaan darurat. Penyebabnya adalah kebocoran udara yang sudah berlangsung lama di segmen Rusia, tepatnya di terowongan transfer PrK modul Zvezda, yang kini semakin parah. Meskipun perintah evakuasi dicabut satu setengah jam kemudian, insiden ini menjadi pengingat bahwa laboratorium sains termahal umat manusia itu mulai menunjukkan usianya.
Kebocoran tersebut berasal dari retakan halus pada struktur terowongan yang menghubungkan modul Zvezda dengan port dok pesawat ruang angkasa. Retakan ini telah ditambal berulang kali menggunakan sealant, namun tidak ada perbaikan permanen. Pada awal Juni 2026, retakan baru muncul dan laju kebocoran meningkat, memicu perbedaan pendapat tajam antara NASA dan badan antariksa Rusia, Roscosmos. Roscosmos menganggap kebocoran lambat itu tidak berbahaya, sementara NASA menilainya sebagai risiko keselamatan yang meningkat. Ketua komite penasihat ISS, Bob Cabana, pada 2024 telah menyatakan kekhawatiran NASA tentang integritas struktural PrK dan kemungkinan kegagalan katastropik.
Ketegangan memuncak ketika Roscosmos mengusulkan dua rencana perbaikan yang kontroversial. Pertama, kosmonot Rusia akan mengebor lambung untuk memperbaiki retakanโlangkah yang ditolak NASA. Rencana kedua bahkan lebih berisiko: menggunakan gergaji untuk memotong braket penahan beban di terowongan. Begitu NASA mengetahui rencana tersebut, mereka langsung memerintahkan evakuasi ke Crew Dragon. Roscosmos akhirnya membatalkan kedua rencana itu dan memutuskan untuk menutup akses ke terowongan PrK dari bagian stasiun lainnya.
Insiden ini menyoroti kerapuhan tidak hanya struktur fisik ISS, tetapi juga fondasi kerja sama internasional yang menopangnya. ISS lahir dari mencairnya hubungan AS-Uni Soviet pasca-Perang Dingin, ketika kedua negara menggabungkan proyek stasiun ruang angkasa mereka pada awal 1990-an. Kini, dengan ketegangan geopolitik yang kembali memanas, setiap keputusan teknis berpotensi menjadi isu diplomatik. Bagi Indonesia, meski tidak terlibat langsung, perkembangan ini relevan mengingat semakin banyak negara berkembang yang melirik antariksa, termasuk rencana peluncuran satelit dan misi astronaut. Keandalan stasiun luar angkasa menjadi tolok ukur bagi kolaborasi global di masa depan.
Dalam jangka panjang, ISS tidak dirancang untuk abadi. Rencana awalnya adalah menyerahkan orbit rendah Bumi kepada stasiun komersial swasta. Namun, pengganti yang paling siap, Haven-1 milik Vast, baru memiliki seperdelapan ruang hidup ISS dan sangat bergantung pada kapsul SpaceX untuk pasokan udara dan listrik. Peluncurannya yang semula dijadwalkan 2026 kini mundur ke 2027. Sementara itu, stasiun modular Haven-2 yang bisa menjadi pengganti penuh baru menargetkan modul pertama pada 2028 dan penyelesaian pada 2032โtepat saat ISS dijadwalkan pensiun. Dua pesaing lain, Axiom dan Starlab Space, masih dalam pengembangan dan Axiom baru-baru ini menghadapi kesulitan keuangan.
Kongres AS, menyadari lambatnya kesiapan sektor swasta, telah memperpanjang masa operasi ISS hingga 2032, dari sebelumnya 2030. Undang-undang yang menunggu persetujuan ini mengaitkan pensiunnya ISS dengan kesiapan pengganti, serta memperingatkan skenario di mana China menjadi satu-satunya negara dengan kehadiran manusia berkelanjutan di orbit rendah Bumi. Namun, perpanjangan ini hanya bersifat sementara. Pertanyaan mendasar tetap menggantung: siapa yang akan membayar untuk menggantikan ISS ketika stasiun berusia 30 tahun itu akhirnya benar-benar tidak layak huni?



