Pemenang The Traitors Dukung Wajib Militer: Solusi untuk Generasi Muda?
Baca dalam 60 detik
- Harry Clark, mantan tentara yang menjuarai acara The Traitors, mendukung penerapan kembali wajib militer bagi pemuda Inggris.
- Menurutnya, program tersebut dapat memberikan tujuan hidup dan mengurangi angka kriminalitas di kalangan remaja.
- Wacana ini memicu diskusi tentang efektivitas wajib militer di era modern, termasuk relevansinya bagi Indonesia.

Harry Clark, pemenang acara realitas BBC The Traitors yang sebelumnya bertugas sebagai insinyur Angkatan Darat Inggris, secara terbuka menyuarakan dukungannya terhadap pengaktifan kembali program Wajib Militer (National Service) bagi pemuda berusia 18 hingga 26 tahun. Dalam wawancara di acara Storm + Alexis milik Channel 5, ia menilai skema tersebut mampu membentuk karakter dan memberikan arah hidup bagi generasi muda yang kerap kehilangan tujuan.
Clark, yang mengabdi selama enam tahun di militer sebelum menjadi bintang televisi, menepis anggapan umum bahwa wajib militer identik dengan pengiriman anak-anak ke medan perang. "Ada kesalahpahaman besar tentang tentara. Bukan berarti kami akan mengirim anak-anak ke perang, menembak, dan terbunuh. Sama sekali tidak," ujarnya. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri sebagai teknisi aeronautika helikopterโsebuah profesi yang memberinya keterampilan seumur hidup meski ia mengaku kesulitan mengeja kata 'aeronautika'. Menurutnya, militer menawarkan beragam pelatihan, mulai dari pengemudi hingga juru masak.
Lebih jauh, Clark menyoroti krisis identitas yang melanda remaja di London. "Banyak anak muda terjerumus kriminal karena merasa tidak punya tujuan. Militer bisa memberi mereka tujuan itu," tegasnya. Ia menambahkan bahwa lingkungan militer kerap menjadi 'keluarga baru' bagi mereka yang merasa tersesat. "Jika mereka belajar merapikan tempat tidur saja selama setahun, mereka akan menjadi dewasa yang lebih baik," katanya.
Wacana ini memicu perdebatan di Inggris, terutama setelah pemerintah konservatif sebelumnya sempat mewacanakan program serupa. Namun, kritikus meragukan efektivitasnya di tengah perubahan sosial dan ekonomi. Bagi Indonesia, diskusi tentang wajib militer juga relevan mengingat program serupa pernah diterapkan di era Orde Baru melalui Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN). Meski kini tidak lagi bersifat wajib, semangat bela negara tetap digaungkan melalui program seperti Resimen Mahasiswa (Menwa) dan pelatihan dasar kemiliteran secara sukarela.
Pakar kebijakan publik menilai bahwa gagasan Clark mengandung nilai positif dalam hal pembentukan disiplin dan keterampilan, namun perlu disesuaikan dengan konteks lokal. "Di Indonesia, tantangannya bukan hanya kriminalitas, tetapi juga radikalisme dan pengangguran. Program semacam ini bisa menjadi solusi jika dirancang dengan tepat," ujar seorang analis sosial. Namun, ia mengingatkan bahwa pendekatan sukarela lebih sesuai dengan nilai demokrasi saat ini.
Ke depan, dukungan figur publik seperti Harry Clark dapat mendorong diskusi lebih luas tentang peran negara dalam membentuk karakter generasi muda. Akankah Inggris benar-benar menghidupkan kembali Wajib Militer? Ataukah ini hanya nostalgia masa lalu yang sulit diwujudkan di abad ke-21?



