Perbudakan Modern di India: 12 Pekerja Diselamatkan dari Pabrik di Uttar Pradesh
Baca dalam 60 detik
- Polisi India menyelamatkan 12 pria yang dijadikan pekerja paksa di pabrik piring sekali pakai di Muzaffarnagar, Uttar Pradesh.
- Para korban dijanjikan pekerjaan, namun disekap, dipukuli, dan hanya diberi satu roti kering sehari selama berbulan-bulan.
- Insiden ini memicu kemarahan publik dan sorotan terhadap praktik perbudakan yang masih terjadi meski telah dilarang 50 tahun lalu.

Polisi di negara bagian Uttar Pradesh, India, menggerebek sebuah pabrik piring sekali pakai di Distrik Muzaffarnagar dan membebaskan 12 pria yang diduga menjadi korban perbudakan modern. Penggerebekan yang dilakukan setelah penyelidikan selama sepekan itu mengungkap kondisi kerja yang di luar batas kemanusiaan, memicu gelombang kecaman di media sosial dan kalangan politikus.
Menurut pernyataan Kepala Polisi Sanjay Kumar Verma, para korban berasal dari berbagai daerah, termasuk Uttar Pradesh, Haryana, Bihar, Uttarakhand, dan satu orang dari Nepal. Beberapa di antaranya telah ditahan di pabrik tersebut hingga 18 bulan. Mereka diiming-imingi pekerjaan di stasiun kereta dan tempat umum, lalu dibawa ke pabrik, dirampas ponselnya, dan dikunci di dalam ruangan.
"Mereka dipaksa bekerja tanpa henti, dipukuli dengan tongkat tajam jika meminta upah atau mencoba melarikan diri," ujar Verma dalam keterangan resmi. Polisi juga menemukan bahwa para pekerja hanya diberi satu roti kering sehari dan dijaga oleh anjing pit bull. Dua orang telah ditangkap, sementara pemilik pabrik masih buron.
Kisah para korban terungkap melalui wawancara dengan BBC Hindi. Ramu, asal Uttarakhand, menceritakan bahwa mereka "diperlakukan seperti tahanan". Ponsel mereka disita dan kartu identitas Aadhaar dibakar. Narayan, dari Chhattisgarh, mengaku dirayu dengan janji pekerjaan di Stasiun Kereta Delhi. Ia harus menafkahi dua saudara dan dua anak kecil. "Saya sudah di sini empat bulan. Saya sangat merindukan keluarga," katanya. Dan Bahadur Thapa, warga Nepal, mengaku ditahan hampir dua tahun tanpa kontak dengan keluarganya.
Polisi telah mendaftarkan kasus berdasarkan Undang-Undang Penghapusan Sistem Kerja Paksa (Bonded Labour System Abolition Act), undang-undang pekerja anak, dan pasal lainnya. Tim investigasi khusus dibentuk untuk menyelidiki kemungkinan adanya pekerja yang meninggal di pabrik tersebut. Verma menambahkan bahwa delapan korban telah dipulangkan ke keluarganya, sementara sisanya masih dalam proses identifikasi dan rehabilitasi.
Insiden ini mengingatkan kembali pada praktik perbudakan yang masih mengakar di India, meskipun telah dilarang sejak 1976. Data resmi menunjukkan masih ribuan kasus pekerja paksa setiap tahun, terutama di sektor informal seperti pabrik batu bata, pertanian, dan manufaktur kecil. Kemiskinan dan kurangnya akses pendidikan membuat pekerja rentan terjebak dalam lingkaran utang dan paksaan.
Pemimpin oposisi Rahul Gandhi mengecam kejadian ini sebagai "serangan terhadap martabat manusia" dan menuntut hukuman seberat-beratnya bagi pelaku. Di media sosial, tagar #BondedLabour dan #JusticeForWorkers ramai diperbincangkan. Banyak warganet menyebut praktik ini sebagai "noda pada hati nurani kolektif" dan mendesak pemerintah untuk bertindak tegas.
Ke depan, kasus ini menjadi ujian bagi sistem hukum India dalam memberantas perbudakan modern. Apakah penegakan hukum yang lebih keras dan rehabilitasi korban mampu memutus rantai eksploitasi, ataukah praktik ini akan terus berulang di balik tembok pabrik-pabrik kecil di pelosok negeri?



