Hari Bhayangkara ke-80: Polres Rote Ndao Gelar Turnamen Mobile Legend, Dorong Esports sebagai Wadah Prestasi
Baca dalam 60 detik
- Polres Rote Ndao menggelar turnamen Mobile Legend dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80, diikuti tiga tim lokal.
- Turnamen ini merupakan bagian dari pendekatan Polri kepada generasi muda melalui esports yang telah diakui sebagai cabang olahraga internasional.
- Tim Leak Lemahan keluar sebagai juara dan akan mewakili Polres Rote Ndao ke tingkat Polda NTT, membuka peluang hingga Kapolri Cup.

Polres Rote Ndao menggelar turnamen esports Mobile Legend sebagai bagian dari perayaan Hari Bhayangkara ke-80, sebuah langkah yang tidak hanya merayakan institusi kepolisian tetapi juga merangkul generasi muda melalui kompetisi digital yang tengah naik daun. Kapolres Rote Ndao AKBP Mardiono secara resmi membuka turnamen bertajuk Kapolres Rote Ndao Cup 2026 di Mapolres setempat pada Rabu (24/6/2026), menandai komitmen Polri untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Turnamen ini dirancang secara berjenjang, dimulai dari tingkat polres, kemudian polda, hingga puncaknya di tingkat Mabes Polri. Di level polres, tiga tim bertarung memperebutkan tiket ke Polda Nusa Tenggara Timur: Guardian Earth, Leak Lemahan, dan JB +62. Pertandingan berlangsung sengit, dengan Leak Lemahan keluar sebagai juara pertama setelah mengalahkan JB +62 di partai final dengan skor 2-0. Guardian Earth harus puas di posisi ketiga. Tim Leak Lemahan kini bersiap mewakili Rote Ndao ke kompetisi tingkat polda, yang akan mempertemukan perwakilan dari seluruh polres di NTT.
Bagi Kapolres Mardiono, turnamen ini lebih dari sekadar ajang mencari pemenang. "Ini adalah wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat, meningkatkan kemampuan, dan membangun karakter melalui kompetisi yang sehat dan sportif," ujarnya dalam sambutan pembukaan. Ia menambahkan bahwa Mobile Legend telah diakui sebagai cabang olahraga prestasi di kancah internasional, sehingga kegiatan ini menjadi bentuk pendekatan Polri yang relevan dengan minat anak muda.
Langkah Polres Rote Ndao ini mencerminkan tren yang lebih luas di Indonesia, di mana institusi publik mulai memanfaatkan esports sebagai alat engagement. Mobile Legend, yang dikembangkan oleh Moonton, telah menjadi fenomena di Asia Tenggara, dengan turnamen profesional seperti MPL (Mobile Legends Professional League) menarik jutaan penonton. Di Indonesia, esports telah diakui sebagai cabang olahraga resmi oleh Kemenpora, dan Polri tampaknya ingin mengambil peran dalam ekosistem ini, terutama dalam membina bakat lokal di daerah terpencil seperti Rote Ndao.
Kapolres juga berharap kegiatan ini dapat menjadi alternatif positif bagi anak muda, menjauhkan mereka dari perilaku negatif seperti tawuran, balap liar, atau penyalahgunaan narkoba. "Semoga kegiatan ini menjadi alternatif kegiatan positif sehingga terhindar dari perilaku negatif," tambahnya. Pendekatan ini sejalan dengan program Polri yang semakin gencar melakukan pendekatan humanis dan berbasis komunitas.
Ke depan, perjalanan Tim Leak Lemahan masih panjang. Mereka harus bersaing dengan perwakilan polres lain di Polda NTT, dan jika berhasil, akan melaju ke Kapolri Cup di tingkat Mabes. Kapolres berpesan agar tim terus berlatih, karena setiap perwakilan pasti akan menampilkan yang terbaik. Pertanyaannya, mampukah Rote Ndao, sebuah kabupaten kepulauan di NTT, bersaing dengan tim-tim dari kota besar yang mungkin memiliki infrastruktur dan pelatihan lebih baik? Atau justru turnamen ini akan menjadi bukti bahwa bakat esports bisa muncul dari mana saja, termasuk dari pelosok negeri?



