Maroko Yakin Bisa Juara Dunia, Meski Gagal Jadi Juara Grup
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Maroko Mohamed Ouahbi menegaskan timnya memiliki potensi juara dunia setelah lolos ke 32 besar Piala Dunia 2026.
- Maroko harus puas sebagai runner-up Grup C setelah kalah selisih gol dari Brasil, meski menang 4-2 atas Haiti.
- Di babak 32 besar, Maroko akan menghadapi juara Grup F yang berisi Jepang, Belanda, atau Swedia.

Pelatih tim nasional Maroko, Mohamed Ouahbi, menyatakan keyakinannya bahwa skuad asuhannya memiliki kapasitas untuk menjadi juara dunia, meski harus melaju ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 sebagai runner-up grup. Pernyataan itu disampaikan usai kemenangan 4-2 atas Haiti pada laga pamungkas Grup C, Rabu (24/6) waktu setempat.
"Maroko telah memasuki dimensi baru. Kami berada dalam momentum yang mengharuskan kami percaya bisa merebut gelar," ujar Ouahbi kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa timnya memiliki "bahan-bahan terbaik" untuk menjadi bangsa terkuat di sepak bola dunia, dan keyakinan itu dimiliki oleh pemain serta staf pelatih.
Meski optimistis, Ouahbi mengakui kekecewaan karena gagal memuncaki klasemen Grup C. Sebelum pertandingan, Maroko berharap bisa menggeser Brasil dari posisi teratas, namun kemenangan 4-2 atas Haiti tidak cukup setelah Brasil mengalahkan Skotlandia 3-0 di Miami. Maroko pun harus puas sebagai runner-up karena kalah selisih gol.
"Kami mengincar posisi pertama, tetapi Haiti bermain tanpa beban dan melakukan transisi dengan baik. Itu bukan laga mudah bagi kami," jelas Ouahbi. Ia memuji statistik timnya yang unggul dalam penguasaan bola dan peluang, namun mengakui semangat Haiti yang sudah tersingkir membuat mereka bermain lebih lepas.
Sebagai runner-up, Maroko akan menghadapi pemenang Grup F yang masih diperebutkan oleh Jepang, Belanda, dan Swedia. Ouahbi enggan memilih lawan, dengan alasan ketiga tim memiliki gaya bermain berbeda. "Ini Piala Dunia, kami datang dengan ambisi besar. Pada akhirnya, kami harus siap menghadapi apa pun yang ada di depan," tegasnya.
Prestasi Maroko di Piala Dunia 2022 Qatar, ketika menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal, menjadi modal kepercayaan diri. Namun, kegagalan menjadi juara grup menunjukkan bahwa persaingan di level tertinggi masih ketat. Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perjalanan Maroko bisa menjadi pelajaran berharga: ambisi besar harus dibarengi konsistensi di setiap laga, terutama saat menghadapi tim yang dianggap lebih lemah.
Ke depan, Maroko harus membuktikan bahwa semifinal Qatar bukanlah kebetulan. Apakah Ouahbi mampu membawa Singa Atlas melaju lebih jauh, atau justru tersandung di babak awal? Jawabannya akan mulai terlihat Senin depan di Monterrey.



