Tim Kriket Wanita Afganistan yang Dilarang Bereksistensi Dapat Dukungan Raja Charles
Baca dalam 60 detik
- Raja Charles III menerima tim kriket wanita Afganistan yang kini hidup di pengasingan dan dilarang bertanding mewakili negaranya akibat kebijakan Taliban.
- Para pemain menyuarakan perjuangan hak perempuan Afganistan untuk berolahraga, dengan sebagian besar anggota tim menjadi pengungsi di Australia.
- Pertemuan ini menjadi simbol solidaritas global sekaligus menyoroti diskriminasi sistematis terhadap atlet perempuan di Afganistan.

Raja Charles III memberikan dukungan simbolis kepada tim kriket wanita Afganistan yang kini berada dalam pengasingan dan secara resmi tidak diakui sebagai perwakilan negara akibat larangan Taliban terhadap olahraga perempuan. Dalam pertemuan di Clarence House, London, sang raja menyambut hangat para atlet yang berhasil melarikan diri dari rezim Taliban untuk terus mengejar mimpi mereka bermain kriket.
"Saya sangat senang kalian bisa mengejar apa yang ingin kalian lakukan," ujar Raja Charles kepada para pemain, seperti dilansir BBC. Pertemuan ini terbilang unik karena biasanya raja menyambut tim olahraga resmi yang bertanding di bawah bendera negaranya, namun kali ini ia berhadapan dengan tim yang secara de facto tidak boleh ada.
Larangan Taliban terhadap olahraga perempuan membuat tim kriket nasional wanita Afganistan tidak lagi diizinkan berpartisipasi dalam kompetisi resmi. Sebagian besar anggota tim telah meninggalkan Afganistan, dengan mayoritas menjadi pengungsi di Australia. Mereka kini menjalani pertandingan eksibisi di Inggris bertepatan dengan penyelenggaraan Piala Dunia T20 Wanita musim panas ini.
Ekil Latifi, salah satu pemain yang telah lima tahun tidak bertemu keluarganya di Afganistan, menegaskan bahwa timnya mewakili semua perempuan yang dilarang berolahraga di negara asal. "Ini semua tentang perempuan Afganistan yang masih di sana," katanya. Latifi, yang meninggalkan Afganistan pada usia 17 tahun saat evakuasi tahun 2021, berharap timnya bisa menginspirasi perempuan yang kini kehilangan hak bermain olahraga.
Rekan setimnya, Shabnam Snahsan, mengaku kecewa karena tim tidak bisa berpartisipasi dalam Piala Dunia musim panas ini. Namun, ia menyambut baik pertemuan dengan raja sebagai bentuk solidaritas publik. "Di Afganistan, perempuan tidak punya hak bermain kriket, bahkan untuk keluar rumah atau belajar. Kami di sini untuk bermain kriket, tapi bukan hanya ituโkami di sini untuk berjuang bagi mereka," ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Raja Charles menerima kaus bertanda tangan tim dan dipasangi lencana Afghan Women's XI di jasnya. Ia juga mendengarkan kisah para pemain tentang perjalanan menegangkan mereka melewati pos pemeriksaan Taliban. Meski cuaca panas, raja tetap mengenakan dasi dan jas, menunjukkan keseriusannya dalam menyambut tim.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat Indonesia juga memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kesetaraan gender di olahraga. Tim kriket wanita Afganistan menjadi pengingat bahwa kebebasan berolahraga masih menjadi hak yang rapuh di beberapa negara. Dukungan internasional seperti dari Kerajaan Inggris setidaknya memberi tekanan moral terhadap rezim yang membatasi hak-hak dasar perempuan.
Ke depan, para pemain berharap bisa kembali bertanding secara resmi, seperti tim pria Afganistan yang masih diakui oleh Dewan Kriket Internasional (ICC). Namun, tanpa perubahan kebijakan di Afganistan, impian itu masih jauh dari kenyataan. Pertanyaannya, akankah tekanan global cukup kuat untuk mengubah kebijakan Taliban terhadap olahraga perempuan?



