Larry David Terkesima Bakat Komedi Barack Obama: Improvisasi Mulus, Timing Tepat
Baca dalam 60 detik
- Larry David memuji kemampuan improvisasi dan timing komedi mantan Presiden AS Barack Obama saat syuting serial HBO terbaru.
- Proyek sketsa komedi berjudul 'Life, Larry and the Pursuit of Unhappiness' ini diproduksi Higher Ground milik Obama dan tayang 26 Juni.
- Kolaborasi ini memicu spekulasi soal potensi Obama di dunia hiburan, meski David enggan berspekulasi soal penghargaan.

Larry David, kreator Curb Your Enthusiasm, mengungkapkan kekagumannya terhadap bakat akting mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama yang dinilainya memiliki timing komedi sempurna dan kemampuan improvisasi alami. Pengalaman beradu akting dengan tokoh sekaliber Obama, menurut David, terasa sangat surealis meski keduanya sudah saling kenal sebelumnya.
Dalam wawancara di pemutaran perdana Life, Larry and the Pursuit of Unhappiness: An Almost History of America di Hollywood, David menceritakan bagaimana Obama tampil natural di depan kamera. “Dia sangat pandai berimprovisasi,” ujar David kepada Variety. “Benar-benar menyenangkan. Kami bersenang-senang.” Serial sketsa komedi HBO yang tayang perdana 26 Juni ini diproduksi oleh Higher Ground, perusahaan produksi milik Barack dan Michelle Obama.
Proyek ini menggunakan format sketsa untuk mengulang kembali momen-momen penting sejarah Amerika menjelang perayaan 250 tahun kemerdekaan AS. Obama muncul dalam salah satu sketsa, meski detail perannya masih dirahasiakan. David mengaku sempat gugup dan berusaha tidak memikirkan siapa lawan mainnya agar tidak merusak adegan. “Itu benar-benar trippy,” katanya.
David juga membeberkan asal-usul kolaborasi ini. Higher Ground yang pertama kali mendekatinya. “Saya kenal Presiden sedikit. Kami pernah bermain golf bersama, dan saya juga pernah tampil di iklan Super Bowl beberapa tahun lalu dengan kostum. Mungkin itu yang membuat mereka tertarik,” ujar David. “Atau mungkin mereka hanya suka Curb.”
Ketika ditanya apakah penampilan Obama layak mendapat penghargaan televisi, David enggan berspekulasi. Ia lebih memilih fokus pada proses kreatif. Sementara itu, David juga melontarkan kritik terhadap Presiden Donald Trump terkait acara UFC di Gedung Putih yang menjadi bagian dari perayaan ulang tahun AS. “Apa lagi yang bisa dikatakan? Memalukan. Saya malu menjadi orang Amerika,” ujarnya.
Bagi penonton Indonesia, kolaborasi ini menjadi pengingat bahwa figur publik—termasuk politisi—bisa memiliki dimensi lain di luar karier utama mereka. Di tengah maraknya konten politik yang kaku, kehadiran Obama dalam komedi menunjukkan pendekatan baru dalam membangun koneksi dengan publik. Pertanyaan besarnya: akankah tokoh politik Indonesia berani mengambil langkah serupa, atau justru terjebak dalam citra formal yang kaku?



