Kalah di CAS, Lazio Dibayangi Denda €69 Ribu dan Kemarahan Suporter
Baca dalam 60 detik
- CAS memvonis Lazio membayar kompensasi lebih dari €69 ribu kepada mantan pemain wanita Maja Gothberg karena pemutusan kontrak sepihak saat ia hamil.
- Klub mengklaim tidak bertindak buruk dan mengandalkan interpretasi hukum yang keliru, namun pernyataan resmi mereka justru memicu kemarahan suporter.
- Kasus ini menjadi preseden pertama di sepak bola wanita, menyoroti celah perlindungan hukum bagi atlet hamil di level klub.

Klub Serie A Lazio harus menerima kekalahan dalam sidang banding di Court of Arbitration for Sport (CAS) terkait pemutusan kontrak pemain wanita Maja Gothberg yang sedang hamil. Tak hanya diwajibkan membayar kompensasi lebih dari €69 ribu, langkah klub merilis pernyataan pembelaan diri malah memicu gelombang kemarahan dari pendukungnya sendiri.
Gothberg, kiper asal Swedia, telah menyepakati perpanjangan kontrak pada 2024 dan siap menandatangani dokumen resmi. Namun, begitu ia memberi tahu klub tentang kehamilannya, proses administrasi berhenti. Lazio kemudian mengklaim bahwa ketidakhadiran Gothberg dalam latihan pramusim karena mual dianggap sebagai penarikan diri dari kontrak, sehingga perjanjian dianggap tidak lagi mengikat.
Dalam putusannya, CAS menegaskan bahwa Lazio tidak bertindak dengan itikad buruk, tetapi interpretasi hukum klub terhadap situasi tersebut tidak dapat dibenarkan. Panel arbitrase juga mencatat bahwa seluruh komunikasi dilakukan melalui perwakilan pemain, tanpa kontak langsung antara Gothberg dan manajemen klub. Meski demikian, CAS tidak menjatuhkan sanksi olahraga tambahan sebagaimana diatur regulasi FIFA untuk kasus diskriminasi terkait kehamilan.
Pernyataan resmi Lazio yang dirilis setelah putusan justru menjadi bumerang. Dalam pernyataan itu, klub menekankan bahwa kasus ini bersifat unik dan terjadi dalam proses negosiasi yang rumit melalui perantara. Klub juga mengklaim tidak pernah menerima komunikasi langsung dari pemain mengenai kelanjutan kontrak. Namun, nada defensif tersebut dianggap oleh suporter sebagai upaya menghindari tanggung jawab. Banyak pendukung yang berkomentar di media sosial bahwa Lazio "tidak belajar apa-apa" dan pernyataan itu "memalukan."
Kemarahan ini menambah panjang daftar protes terhadap Presiden Claudio Lotito. Kelompok ultras Lazio telah lama memboikot pertandingan kandang di Stadio Olimpico sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Lotito. Kasus Gothberg dianggap sebagai bukti baru bahwa manajemen klub tidak mampu mengelola tim secara profesional, terutama dalam hal hak-hak dasar pemain.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan hukum bagi atlet wanita, khususnya terkait kehamilan. Regulasi di Indonesia, seperti Undang-Undang Ketenagakerjaan dan peraturan PSSI, sebenarnya sudah melarang diskriminasi berbasis gender dan kondisi reproduksi. Namun, implementasi di level klub masih lemah. Jika kasus serupa terjadi di Liga 1 atau Liga 2, belum ada jaminan bahwa pemain akan mendapatkan keadilan serupa tanpa harus melalui jalur hukum yang panjang dan mahal.
Ke depan, putusan CAS ini berpotensi menjadi preseden yang mendorong federasi sepak bola global, termasuk FIFA dan AFC, untuk memperketat aturan perlindungan atlet hamil. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah klub-klub di Indonesia sudah siap mengadopsi standar tersebut, atau justru akan menghadapi gugatan serupa di masa depan?



