Tuchel vs Southgate: Dua Filsafat, Satu Target Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Thomas Tuchel membangun Inggris dengan sistem taktis yang dirancang untuk mengalahkan tim-tim besar, berbeda dengan pendekatan pragmatis Gareth Southgate yang mengandalkan kualitas individu pemain.
- Hasil imbang 0-0 melawan Ghana menjadi ujian nyata: strategi Tuchel yang mengandalkan umpan-umpan pendek dan transisi cepat gagal membongkar pertahanan rapat lawan yang enggan memancing tekanan.
- Ke depan, Inggris harus siap menghadapi taktik serupa dari tim-tim lain, namun jika mampu melewati fase grup, pendekatan Tuchel berpotensi lebih efektif di babak gugur melawan lawan yang lebih berani menekan.

Thomas Tuchel membawa angin segar ke skuad Inggris dengan pendekatan taktis yang berani dan terstruktur, namun hasil imbang tanpa gol melawan Ghana di Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa tidak semua lawan mau bermain terbuka. Pertandingan di Boston itu memperlihatkan betapa rapuhnya skema Tuchel saat berhadapan dengan tim yang disiplin bertahan dan enggan memberikan ruang.
Sejak awal turnamen, Tuchel telah menegaskan bahwa ia memiliki 14 atau 15 pemain starter yang cocok dengan sistemnya. Sistem itu dibangun di atas gagasan untuk memancing tekanan dari lawan, lalu memanfaatkan ruang di belakang pertahanan melalui umpan-umpan panjang dan lari cepat para pemain sayap. Harry Kane, yang biasa turun ke lini tengah untuk menarik bek lawan, menjadi poros utama strategi ini. Namun, Ghana yang dilatih Carlos Queiroz datang dengan rencana berbeda: mereka bertahan dalam blok rendah 4-5-1 dan nyaris tidak pernah meninggalkan bentuk pertahanan mereka.
Pertandingan melawan Kroasia sebelumnya menjadi contoh sempurna bagaimana sistem Tuchel bekerja. Kroasia yang nekat menekan dari depan justru kebobolan tiga gol karena bek-bek mereka ditarik keluar posisi oleh pergerakan Kane dan Elliot Anderson. Namun, Ghana belajar dari kesalahan itu. Mereka mematikan Kane dengan penjagaan ketat Thomas Partey, sementara Jordan Ayew bertugas membayangi Anderson. Akibatnya, umpan-umpan pendek yang menjadi ciri khas Inggris hanya berputar-putar di lini belakang tanpa mampu menembus pertahanan.
Perbedaan filosofi antara Tuchel dan pendahulunya, Gareth Southgate, semakin terlihat jelas. Southgate cenderung memilih pemain terbaik lalu menyesuaikan taktik, sehingga Inggris mampu mendominasi tim-tim kecil namun kesulitan saat berhadapan dengan raksasa seperti Spanyol. Sebaliknya, Tuchel membangun sistem terlebih dahulu dan mencari pemain yang sesuai peran. Pendekatan ini membuat Inggris lebih terstruktur saat melawan tim yang berani menekan, tetapi rapuh saat menghadapi bus yang diparkir.
Dalam konteks sepak bola Indonesia, perdebatan antara pendekatan berbasis sistem versus berbasis pemain juga relevan. Timnas Indonesia di bawah Shin Tae-yong mulai mengadopsi skema yang jelas, namun masih sering kesulitan saat lawan bermain bertahan total. Pelajaran dari Inggris menunjukkan bahwa memiliki sistem saja tidak cukup; diperlukan juga pemain dengan kreativitas individu untuk membongkar pertahanan rapat. Phil Foden dan Cole Palmer, dua pemain yang ditinggalkan Tuchel di rumah, justru tipe yang bisa menjadi solusi dalam situasi semacam itu.
Meski hasil imbang melawan Ghana mengecewakan, satu poin itu membawa Inggris semakin dekat ke puncak grup L. Dalam turnamen, tidak kalah seringkali lebih penting daripada menang gemilang. Portugal memenangi Euro 2016 setelah melewati fase grup dengan tiga hasil imbang dan hanya sekali menang dalam waktu normal sepanjang turnamen. Jika Inggris mampu melaju ke babak gugur, sistem Tuchel justru akan lebih efektif karena lawan-lawan seperti Spanyol atau Jerman cenderung bermain lebih terbuka.
Namun, tantangan terbesar Inggris justru datang dari tim-tim yang rela mengorbankan gengsi demi hasil. Jika semakin banyak negara meniru taktik Ghana, Tuchel harus segera mencari solusi. Apakah ia akan tetap setia pada sistemnya atau mulai menyiapkan rencana cadangan? Jawabannya akan menentukan sejauh mana Inggris melangkah di Piala Dunia ini.



