Hujan Ekstrem dan Ancaman Dua Topan: Jepang Siaga Bencana di Kyushu
Baca dalam 60 detik
- Curah hujan lebih dari 70 mm per jam mengguyur Kagoshima, memicu peringatan bencana akibat linear rainband yang berpotensi memicu longsor dan banjir.
- Badan Meteorologi Jepang memperkirakan hujan 300 mm dalam 24 jam di Shikoku dan 250 mm di Kyushu selatan, dengan ancaman meluas hingga Jumat.
- Dua topan, Mekkhala dan Higos, bergerak mendekati Jepang; Okinawa bersiap menghadapi gelombang tinggi dan angin kencang setara badai.

Hujan deras dengan intensitas ekstrem mengguyur Pulau Kyushu, Jepang barat daya, pada Rabu (24/6), mendorong Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan peringatan dini bencana akibat terbentuknya sabuk hujan linier atau linear rainband. Fenomena ini meningkatkan risiko tanah longsor, banjir di dataran rendah, serta kenaikan muka air sungai secara mendadak di sejumlah prefektur.
Di Kota Satsumasendai, Prefektur Kagoshima, curah hujan tercatat melampaui 70 milimeter per jam pada Rabu pagi. JMA memperkirakan dalam 24 jam hingga Kamis siang, volume hujan bisa mencapai 300 mm di Pulau Shikoku, 250 mm di Kyushu selatan, serta 200 mm di wilayah Tokai, Kinki, dan Kyushu utara. Angka ini setara dengan sepertiga hingga setengah curah hujan tahunan Jakarta, yang biasanya sekitar 1.500–2.000 mm per tahun.
Sabuk hujan linier diprediksi terbentuk mulai Kamis dini hari di lima prefektur Kyushu: Fukuoka, Saga, Nagasaki, Oita, dan Kumamoto. Kondisi ini terjadi ketika awan hujan lebat terbentuk secara beruntun di area yang sama, sehingga air menggenang tanpa henti dan memicu bencana hidrometeorologi. JMA mengimbau warga di wilayah barat dan timur Jepang untuk tetap waspada terhadap longsor dan banjir yang bisa terjadi hingga Kamis.
Ancaman tidak berhenti pada hujan. Dua siklon tropis bergerak mendekati Jepang secara simultan. Topan Mekkhala telah mencapai Okinawa pada Rabu dan diperkirakan mendekati rantai Pulau Nansei antara Kamis hingga Sabtu. JMA memperingatkan gelombang tinggi disertai swell serta angin kencang yang cukup kuat untuk menggulingkan truk bergerak. Curah hujan di Okinawa diprediksi mencapai 60 mm dalam 24 jam hingga Kamis pagi, dan 150 mm pada periode 24 jam berikutnya.
Sementara itu, topan kedua, Higos, masih berada di dekat Kepulauan Mariana di Pasifik dan diperkirakan bergerak ke utara, berpotensi mendekati kepulauan Jepang. Kedua topan ini menambah tekanan pada sistem tanggap darurat yang sudah kewalahan menangani banjir bandang di Kyushu.
Bagi Indonesia, pola cuaca ekstrem di Jepang menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini dan infrastruktur mitigasi bencana. Dengan topografi kepulauan dan curah hujan tinggi yang serupa, Indonesia rentan terhadap fenomena serupa, terutama di musim pancaroba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kerap mengeluarkan peringatan dini hujan lebat dan potensi banjir, namun efektivitasnya bergantung pada kesiapsiagaan daerah dan partisipasi masyarakat.
Ke depan, pertanyaan mendesak adalah apakah Jepang mampu mengelola dampak ganda antara hujan ekstrem dan dua topan dalam waktu berdekatan. Dengan perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, sistem mitigasi bencana di kawasan Asia Timur—termasuk Indonesia—perlu terus diperkuat agar tidak sekadar reaktif, melainkan antisipatif.



