Supergirl: Langkah Aman James Gunn Membangun Ulang Jagat DC
Baca dalam 60 detik
- Film Supergirl menjadi uji kedua jagat DC baru arahan James Gunn dan Peter Safran, dengan Milly Alcock memerankan Kara Zor-El yang sinis namun tetap heroik.
- Meski mendapat pujian berkat visual memukau dan akting solid, film ini dianggap mengulang formula khas Gunn yang sudah lazim di Guardians of the Galaxy.
- Clayface, film horor-thriller yang akan rilis Oktober mendatang, dinilai sebagai ujian sesungguhnya apakah DCU mampu keluar dari zona aman dan menawarkan variasi genre.

Supergirl, yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada 25 Juni 2025, menjadi film kedua dalam jagat DC Universe (DCU) anyar besutan James Gunn dan Peter Safran. Mengusung kisah Kara Zor-El—sepupu Superman yang sinis dan gemar berpesta—film ini mengajak penonton mengikuti petualangan lintas galaksi yang dibalut nuansa heroik khas pahlawan super.
Bagi penggemar setia DC, kehadiran Supergirl menjadi angin segar setelah era kelam DC Extended Universe (DCEU) yang penuh kontroversi. Namun, di balik pujian terhadap penampilan Milly Alcock yang memukau serta visual spektakuler yang layak ditonton di IMAX, ada satu pertanyaan menggelitik: seberapa orisinalkah film ini?
Kritikus mencatat bahwa Supergirl, meski tidak disutradarai atau ditulis langsung oleh Gunn, tetap sarat dengan ciri khas sang sutradara. Mulai dari kumpulan karakter traumatis yang berpetualang di luar angkasa, alien-alien unik dengan dialog jenaka, hingga adegan pertarungan yang diiringi lagu rock klasik. Formula ini, menurut pengamat, memang masih efektif—terbukti dari reaksi positif penonton di pemutaran perdana. Namun, kekhawatiran mulai muncul: apakah DCU akan terjebak dalam satu nada ceria dan penuh warna seperti yang dilakukan Marvel?
Bagi penonton Indonesia, pertanyaan ini relevan mengingat popularitas film superhero di Tanah Air terus meningkat. Data dari Asosiasi Perfilman Indonesia menunjukkan bahwa film superhero menyumbang lebih dari 30% pendapatan box office nasional pada 2024. Jika DCU hanya mengulang formula yang sudah ada, bukan tidak mungkin penonton lokal akan cepat bosan dan beralih ke tayangan alternatif.
Untungnya, langkah selanjutnya bisa menjadi titik balik. Clayface, yang dijadwalkan rilis Oktober 2025, digadang-gadang sebagai film horor-thriller pertama DC Studios. Proyek ini diharapkan menjadi ujian sesungguhnya apakah DCU mampu merangkul sisi gelap dan mencekam, bukan hanya petualangan ringan penuh canda. Jika berhasil, jagat DC baru ini bisa memiliki identitas yang lebih kaya dan beragam.
Pertanyaan besarnya: akankah Clayface benar-benar mengubah arah DCU, atau justru tetap berada dalam bayang-bayang formula aman ala Gunn? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti—penggemar superhero di Indonesia patut menanti dengan antisipasi.



