Skotlandia di Ambang Sejarah: Hadapi Brasil demi Tiket Babak Gugur
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia hanya butuh hasil imbang atau menang atas Brasil untuk lolos ke babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.
- Puluhan ribu suporter Tartan Army telah membanjiri Miami, menciptakan atmosfer pesta yang dibayangi perhitungan matematis kelolosan.
- Kemenangan atau hasil imbang akan mengakhiri puasa panjang Skotlandia di fase knock-out dan membuka peluang pertandingan di kota-kota besar AS.

Skotlandia berada di ambang sejarah. Tim asuhan Steve Clarke hanya membutuhkan hasil imbang atau kemenangan atas Brasil dalam laga penentu grup untuk memastikan tempat di babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya sepanjang partisipasi mereka. Puluhan ribu anggota Tartan Army telah memadati Miami, menciptakan gelombang optimisme yang belum pernah terlihat dalam beberapa dekade.
Saat ini, Skotlandia mengoleksi tiga poin dari dua pertandingan awal. Kemenangan atas Brasil akan mengunci tiket ke fase knock-out, sementara hasil imbang hampir memastikan kelolosan. Kekalahan belum sepenuhnya menutup peluang, namun akan membuat mereka bergantung pada hasil laga lain dan perhitungan peringkat ketiga terbaik. Pertandingan yang akan disiarkan langsung oleh BBC ini menjadi sorotan utama di Skotlandia, dengan berbagai tempat publik seperti OVO Hydro Glasgow dan klub-klub lokal menyelenggarakan pesta nonton bersama.
Bagi para suporter, momen ini lebih dari sekadar pertandingan. Stevie Parker, penggemar asal Larbert, menyebut timnya berada di "ambang sejarah" dan yakin tahun ini adalah saatnya Skotlandia "scrape over the line". Brian Guthrie dari Inverness bahkan mengaku membawa spreadsheet setiap hari untuk menghitung peluang, meski ia enggan terlalu percaya diri. "Saya pura-pura sakit untuk bisa ke sini. Akan sangat kecewa jika tidak lanjut. Saya ingin ke Mexico City, dan spreadsheet bilang itu mungkin terjadi," ujarnya.
Bagi Ewen MacDonald, laga ini adalah kesempatan menulis ulang sejarah. Pria 44 tahun itu merayakan ulang tahunnya di Miami, tepat 28 tahun setelah menyaksikan kekalahan Skotlandia 3-0 dari Maroko pada ulang tahunnya yang ke-16—hasil yang mengakhiri harapan Piala Dunia 1998. Kala itu, Skotlandia juga kalah dari Brasil. "Bisa jadi ini salah satu hari terbaik dalam hidup saya. Saya sangat menantikannya," kata Ewen. "Di ulang tahun ke-16, saya melihat Skotlandia kalah dan tersingkir. Saya ingin melihat mereka menang di Piala Dunia. Itu akan membuat ulang tahun saya dan semua mimpi saya menjadi kenyataan."
Euforia juga terasa di dalam negeri. Hampir semua dewan kota di Skotlandia menyetujui perpanjangan izin jam operasional pub dan klub, memungkinkan mereka tetap buka hingga larut untuk menayangkan pertandingan. Asosiasi Bir dan Pub Skotlandia memperkirakan pertandingan grup ini bisa menghasilkan tambahan pendapatan sebesar £7 juta bagi sektor perhotelan. Namun, jika kalah, para penggemar harus bersabar hingga seluruh pertandingan grup berakhir pada 27 Juni untuk mengetahui nasib tim kesayangan mereka—sebelum bergegas ke Boston, New Jersey, atau Mexico City untuk laga 32 besar.
Bagi publik Indonesia, perjuangan Skotlandia mengingatkan pada momen-momen dramatis Timnas Indonesia di kancah Asia. Meski level kompetisi berbeda, semangat suporter yang rela terbang jauh dan berhitung peluang kelolosan adalah bahasa universal sepak bola. Pertanyaan besarnya: mampukah Skotlandia memanfaatkan momentum ini, atau justru kembali menuai kekecewaan seperti 28 tahun silam?



