BI Rate Naik ke 5,75%, Ekonom: Langkah Rasional di Tengah Badai Global
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,75% pada RDG Juni 2026, respons terhadap tekanan rupiah dan inflasi.
- Ekonom Bank Permata menilai kenaikan ini defensif dan rasional, namun mengingatkan efektivitasnya bergantung pada faktor eksternal seperti dolar AS dan konflik global.
- Rekomendasi ke depan: BI perlu menahan suku bunga, mengurangi ketergantungan pada dana asing jangka pendek, dan memperkuat koordinasi fiskal-moneter.

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17-18 Juni 2026, menandai langkah agresif untuk menstabilkan rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Keputusan ini juga menaikkan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing ke 4,75% dan 6,50%.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kenaikan ini sebagai langkah yang rasional dan defensif. "Dengan tambahan kenaikan ini, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 poin dasar sejak Mei 2026, termasuk kenaikan di luar jadwal pada 9 Juni 2026. Artinya, BI sedang mengirim sinyal kuat bahwa stabilitas rupiah dan pengendalian ekspektasi inflasi menjadi prioritas utama," ujarnya. Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan eksternal masih mendominasi, seperti konflik Timur Tengah, risiko inflasi global, dan dolar AS yang kuat.
Bagi Indonesia, risiko rambatan dari ketidakpastian global sangat nyata. Arus modal asing yang mudah keluar memaksa BI menjaga daya tarik aset keuangan domestik melalui suku bunga yang kompetitif. Meski demikian, efektivitas kebijakan ini tidak boleh dilebih-lebihkan karena sumber utama pelemahan rupiah berasal dari luar negeri, bukan dari ketidakseimbangan domestik.
Dari sisi inflasi, tekanan harga mulai meningkat. Inflasi Mei 2026 tercatat 3,08%, naik signifikan dari 2,42% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh inflasi inti 2,59%, harga diatur pemerintah 2,07%, dan harga pangan bergejolak yang melonjak hingga 6,24%. Sumber tekanan berasal dari pangan, cuaca, harga energi global, serta kenaikan BBM nonsubsidi dan LPG. Dengan rupiah yang masih rentan, BI harus mencegah pelemahan kurs merembet ke harga impor dan ekspektasi inflasi.
Transmisi kebijakan moneter mulai menunjukkan hasil jangka pendek. Rupiah menguat 0,76% dibanding akhir Mei 2026, didukung intervensi BI, kenaikan imbal hasil SRBI, dan aliran dana asing. Namun, Josua mengingatkan bahwa stabilisasi rupiah masih bertumpu pada daya tarik imbal hasil portofolio jangka pendek. "Strategi ini efektif untuk meredam tekanan pasar, tetapi rentan jika sentimen global kembali memburuk atau investor asing menarik dananya secara cepat," katanya.
Ke depan, Josua merekomendasikan BI untuk menahan suku bunga di level 5,75% sebagai skenario dasar. Selain itu, perlu memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi terukur dan pendalaman pasar valas, mengurangi ketergantungan pada dana asing jangka pendek di SRBI, serta menjaga likuiditas perbankan untuk sektor produktif. Koordinasi fiskal-moneter yang erat juga menjadi kunci agar stabilitas rupiah terjaga tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Pertanyaannya, mampukah BI menyeimbangkan antara tekanan global dan kebutuhan domestik tanpa harus terus menaikkan suku bunga?



