Nobar Piala Dunia 2026: 7.200 Titik Tersebar, Menpora Yakin Dorong Ekonomi Daerah
Baca dalam 60 detik
- Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengklaim kegiatan nonton bareng Piala Dunia 2026 yang mencapai 7.200 titik di seluruh Indonesia mampu menggerakkan ekonomi lokal.
- Pemerintah mendorong keterlibatan UMKM dalam setiap penyelenggaraan nobar, sejalan dengan arahan Kemendagri kepada kepala daerah.
- Langkah ini dinilai sebagai strategi jangka pendek untuk menghidupkan sektor riil di tengah perlambatan ekonomi global.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyebut penyelenggaraan nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 telah menjangkau 7.200 titik di berbagai daerah, dan ia optimistis kegiatan ini tak sekadar menghibur masyarakat, tetapi juga memicu pertumbuhan ekonomi lokal. Dalam kunjungannya ke acara nobar yang digelar TVRI pada Selasa (23/6/2026), Erick menegaskan bahwa setiap titik nobar berpotensi menjadi pusat transaksi ekonomi baru, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Antusiasme masyarakat terhadap ajang sepak bola terbesar di dunia itu terbukti tinggi. Menurut data yang dihimpun Kemenpora dari TVRI, jumlah titik nobar melonjak signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Erick mengapresiasi partisipasi warga yang memadati lokasi-lokasi nobar, mulai dari alun-alun kota hingga kompleks perumahan. Ia menyebut fenomena ini sebagai bukti bahwa olahraga mampu menjadi katalisator aktivitas ekonomi yang merata.
"Saya sangat senang diundang TVRI untuk mengikuti nobar Argentina melawan Austria. Kemenpora berterima kasih kepada Presiden yang memberikan hiburan untuk masyarakat. Saya yakin dengan adanya nobar, aktivitas ekonomi dapat tumbuh secara menyeluruh di berbagai tempat," ujar Erick dalam sambutannya. Ia menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) agar para kepala daerah turut mendorong penyelenggaraan nobar yang melibatkan UMKM setempat.
Erick mencontohkan, tingginya okupansi stadion pada Piala Dunia tahun ini—yang mencapai 96,5 persen—menunjukkan betapa besar dampak ekonomi yang bisa dihasilkan dari kegiatan olahraga. "Kalau Piala Dunia itu sesuatu yang luar biasa. Kita bisa melihat bagaimana ekonomi di sekitar kegiatan olahraga ikut bergerak," katanya. Meski demikian, ia mengakui bahwa Indonesia bukan tuan rumah, sehingga nobar menjadi alternatif untuk menangkap limpahan ekonomi dari gelaran global tersebut.
Langkah ini menjadi relevan bagi Indonesia yang tengah berupaya menggenjot konsumsi domestik di tengah tekanan ekonomi global. Dengan melibatkan UMKM sebagai penjual makanan, minuman, dan merchandise, nobar diharapkan mampu menciptakan sirkulasi uang tunai di tingkat akar rumput. Namun, pengamat ekonomi mengingatkan bahwa dampak jangka panjangnya bergantung pada konsistensi kebijakan dan keberlanjutan program setelah turnamen usai.
Ke depan, Kemenpora berencana memperluas akses masyarakat terhadap tayangan olahraga melalui televisi nasional. Erick menyebut pihaknya akan mencari sponsor untuk menyiarkan lebih banyak pertandingan, termasuk kompetisi nasional, di TVRI. "Kita akan cari jalan agar pertandingan olahraga nasional bisa hadir di TVRI, kita cari sponsornya sama-sama," ujarnya. Pertanyaannya, mampukah strategi ini bertahan melampaui euforia Piala Dunia 2026?



