Tom Hanks Buka Suara: AI Bisa Gantikan Suara Woody di Toy Story 6
Baca dalam 60 detik
- Tom Hanks mengakui kemungkinan Disney menggunakan AI untuk mereproduksi suara Woody di sekuel mendatang, berdasarkan rekaman digital yang sudah ada.
- Aktor peraih Oscar itu menekankan bahwa Toy Story 6 hanya layak dibuat jika memiliki cerita yang benar-benar bermakna, bukan sekadar eksploitasi waralaba.
- Pernyataan Hanks memicu diskusi tentang dampak AI terhadap industri hiburan, termasuk tantangan artistik dan hukum yang dihadapi para aktor.

Tom Hanks, pengisi suara ikonik Woody dalam waralaba Toy Story, mengungkapkan bahwa Disney dapat memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menghidupkan kembali karakter koboi tersebut jika Toy Story 6 benar-benar diproduksi. Pernyataan ini muncul di tengah kesuksesan Toy Story 5 yang baru dirilis, sekaligus membuka kembali perdebatan tentang peran teknologi dalam industri kreatif.
Dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, Hanks yang kini berusia 69 tahun mengatakan bahwa waktu tidak bisa dikalahkan, namun teknologi digital menyimpan seluruh rekaman suaranya selama lebih dari tiga dekade. "Setiap kata yang pernah kami rekam untuk Toy Story tersimpan di suatu tempat dalam media digital. Mereka bisa merangkai apa pun yang mereka inginkan," ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa sekuel baru harus memiliki alasan yang kuat. "Jika Anda akan membuat Toy Story lain, pastikan itu layak. Harus hebat, harus mengeksplorasi tema yang segar, bukan sekadar menarik-narik karena orang menyukai judulnya."
Pernyataan Hanks bukanlah yang pertama kali ia sampaikan mengenai AI. Sebelumnya, ia pernah menyebut bahwa teknologi deepfake dan AI memungkinkan seorang aktor untuk terus 'berakting' bahkan setelah meninggal dunia. "Saya bisa ditabrak bus besok dan itu sudah berakhir, tetapi penampilan bisa terus berlanjut. Di luar pemahaman tentang AI dan deepfake, tidak akan ada yang bisa membedakan bahwa itu bukan saya," jelasnya. Ia menambahkan bahwa situasi ini tidak hanya menjadi tantangan artistik, tetapi juga persoalan hukum.
Bagi industri perfilman Indonesia, wacana ini membuka pertanyaan serupa. Beberapa rumah produksi lokal mulai bereksperimen dengan teknologi AI untuk keperluan dubbing atau restorasi film klasik. Namun, belum ada regulasi yang jelas mengenai hak cipta dan hak moral aktor atas penggunaan suara atau gambar mereka oleh AI. Pengamat film dari Universitas Indonesia, Dr. Rizki Darmawan, menilai bahwa kasus Hanks bisa menjadi preseden penting. "Jika Disney benar-benar menggunakan AI untuk Woody, maka akan muncul tuntutan dari serikat aktor soal kompensasi dan persetujuan. Di Indonesia, hal ini masih abu-abu karena belum ada undang-undang khusus," ujarnya.
Hanks juga mengakui bahwa meskipun telah memerankan Woody selama puluhan tahun, ia tetap merasakan kecemasan yang sama setiap kali merekam. "Mikrofon di sini, dudukan di sana, tim di sana. Jika Anda bisa membawa saya ke titik mana pun dalam semua rekaman ini, saya mengalami kecemasan, tekanan, dan tuntutan fisik yang sama," katanya. Namun, ia juga melihat evolusi karakter Woody yang semakin 'usang' seiring waktu. "Topi karet di atas kepala karet dipasang berulang kali, pasti ada yang lecet. Dia bukan plastik cetakan, melainkan terbuat dari isian dan kain yang melorot seiring waktu," ujarnya dengan nada humor.
Pertanyaan besarnya kini: apakah Disney akan mengambil langkah kontroversial tersebut? Dengan tekanan untuk terus memproduksi konten yang menguntungkan, penggunaan AI bisa menjadi solusi efisien. Namun, seperti diingatkan Hanks, kualitas cerita harus tetap menjadi prioritas. Jika tidak, waralaba yang telah menjadi bagian dari masa kecil jutaan orang ini bisa kehilangan jiwa yang selama ini dijaga oleh suara khas Woody.



