Nigeria Kini Produksi 48 Juta Liter Bensin per Hari, Impor Anjlok Drastis
Baca dalam 60 detik
- Produksi bensin lokal Nigeria melonjak dari nol menjadi 48 juta liter per hari, menekan impor hingga 96%.
- Lonjakan produksi ini mengurangi tekanan terhadap nilai tukar naira karena permintaan dolar untuk impor BBM menurun.
- Keberhasilan ini menjadi contoh bagi negara produsen minyak lain, termasuk Indonesia, dalam mengelola hilirisasi dan stabilitas moneter.

Pemerintah Nigeria mengumumkan bahwa produksi bensin dalam negeri kini mencapai 48 juta liter per hari, sebuah lonjakan dramatis dari kondisi hampir nol pada tahun 2023. Capaian ini disebut sebagai tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya dalam satu generasi, sebagian besar bensin yang dikonsumsi warga Nigeria diolah di dalam negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Penasihat Khusus Presiden Bidang Minyak dan Gas, Olu Verheijen, dalam acara Nigerian-British Chamber of Commerce Energy Day 2026 di Lagos. Menurutnya, reformasi energi yang dilakukan pemerintahan Presiden Bola Tinubu berhasil mengubah ketergantungan impor menjadi kemandirian produksi.
Verheijen menjelaskan bahwa setiap pengiriman bensin impor sebelumnya menjadi beban struktural bagi perekonomian karena membutuhkan dolar yang langka. Akibatnya, nilai tukar naira terus tertekan. Namun, seiring meningkatnya produksi lokal, impor bensin turun drastis dari 2,3 triliun naira pada kuartal pertama 2025 menjadi kurang dari 90 miliar naira setahun kemudian. Penurunan ini secara langsung mengurangi tekanan terhadap naira.
Selain bensin, sektor hulu juga mencatat kemajuan. Produksi minyak mentah dan kondensat mencapai rata-rata 1,64 juta barel per hari pada 2025, naik sekitar 400.000 barel per hari sejak 2023. Angka ini merupakan level produksi onshore tertinggi dalam dua dekade terakhir. Verheijen menambahkan bahwa divestasi perusahaan minyak internasional senilai lebih dari 4 miliar dolar telah selesai, memperdalam partisipasi perusahaan lokal di sektor onshore.
Keberhasilan ini tidak lepas dari langkah berani pemerintah menghapus subsidi bahan bakar dan mereformasi nilai tukar pada 2023. Meskipun keputusan tersebut dinilai berat, hasilnya mulai terlihat. Pendapatan federal hampir dua kali lipat dari 12 triliun naira pada 2023 menjadi 21 triliun naira pada 2024. Verheijen menegaskan bahwa antrean panjang bensin yang dulu menjadi pemandangan umum kini berhasil dicegah.
Bagi Indonesia, pencapaian Nigeria ini memberikan pelajaran berharga. Sebagai sesama negara produsen minyak, Indonesia masih bergantung pada impor BBM untuk memenuhi kebutuhan domestik. Langkah Nigeria dalam mengintegrasikan kebijakan energi dengan stabilitas moneter menunjukkan bahwa hilirisasi minyak tidak hanya mengurangi impor, tetapi juga memperkuat nilai tukar. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru kesuksesan ini di tengah tantangan infrastruktur dan investasi?



