Manchester United Jual Mutiara yang Kini Bersinar di Piala Dunia: Zidane Iqbal
Baca dalam 60 detik
- Zidane Iqbal, mantan pemain akademi Manchester United yang dilepas seharga £850 ribu, tampil gemilang bersama Irak di Piala Dunia 2026.
- Penampilannya melawan Prancis, dengan akurasi umpan 93% dan kontribusi defensif impresif, memicu pertanyaan soal keputusan United melepasnya.
- Di tengah perburuan gelandang mahal seperti Elliot Anderson (£120 juta), United mungkin menyesali kepergian Iqbal yang kini bersinar di panggung global.

Manchester United tengah berburu gelandang baru di bursa transfer musim panas ini, namun di saat yang sama, seorang mantan pemain akademi mereka justru mencuri perhatian di Piala Dunia 2026. Zidane Iqbal, gelandang timnas Irak yang dilepas United tiga tahun lalu dengan harga murah, tampil memukau saat melawan Prancis, memicu spekulasi bahwa Setan Merah mungkin telah kehilangan permata tersembunyi.
United memang memiliki agenda jelas di lini tengah. Kepergian Casemiro ke Inter Miami dan potensi hengkangnya Manuel Ugarte membuat klub membutuhkan darah segar. Nama-nama seperti Mateus Fernandes (West Ham), Sandro Tonali (Newcastle), hingga Elliot Anderson (Nottingham Forest) masuk dalam daftar belanja. Anderson, yang disebut sebagai target utama, dibanderol hingga £120 juta—angka yang sulit dijangkau bahkan oleh United, apalagi dengan kehadiran Manchester City yang bermodal minyak.
Namun, di tengah hiruk-pikuk perburuan mahal itu, muncul nama Zidane Iqbal. Gelandang berusia 23 tahun ini meninggalkan Old Trafford pada 2023 menuju FC Utrecht dengan nilai transfer hanya £850 ribu. Selama di Belanda, kariernya tak begitu cemerlang—hanya 47 penampilan dan sempat turun ke tim cadangan. Tapi di Piala Dunia 2026, Iqbal seperti menemukan kembali performa terbaiknya.
Dalam laga melawan Prancis, Iqbal menjadi sorotan. Ia mencatatkan akurasi umpan 93%, lima kontribusi defensif, lima duel dimenangkan, dan hanya kehilangan bola tujuh kali dari 85 sentuhan—jumlah yang melampaui gelandang Prancis Adrien Rabiot. Media BBC bahkan mempertanyakan mengapa pemain sekaliber Iqbal tidak berkarier di level yang lebih tinggi. "Sungguh misterius bagaimana Zidane Iqbal tidak bermain di liga yang lebih kompetitif secara domestik," tulis jurnalis BBC Umir Irfan.
Yang menarik, Iqbal sebelumnya disebut-sebut lebih unggul dari Kobbie Mainoo di akademi United. Mantan jurnalis Sky Sports, Melissa, memujinya memiliki "kualitas teknis, keterampilan, dan kecerdasan yang melimpah". Bahkan, talent scout Jacek Kulig pernah membandingkannya dengan Frenkie de Jong. Namun, setelah hanya sekali tampil di tim senior, United memutuskan melepasnya. Kini, dengan performa impresif di Piala Dunia, keputusan itu mulai dipertanyakan.
Bagi Indonesia, kisah Iqbal menjadi pelajaran berharga. Klub-klub Eropa kerap melepas pemain muda potensial dengan harga murah, lalu menyesal ketika pemain tersebut bersinar di turnamen besar. Fenomena ini mengingatkan pada kasus pemain diaspora Indonesia yang kerap luput dari radar. Jika United gagal mendatangkan Anderson, mungkin mereka akan merenungkan kembali keputusan melepas Iqbal—sebuah 'Anderson versi murah' yang kini justru menjadi bintang di panggung dunia.
Ke depan, pertanyaan besarnya: akankah Iqbal mampu mempertahankan performa ini dan mendapatkan tawaran dari klub besar Eropa? Atau akankah ia menjadi contoh lain dari pemain yang bersinar hanya di turnamen? Satu hal yang pasti, Manchester United mungkin akan terus dihantui oleh penyesalan atas kepergiannya.



