81 Tahun Tragedi Okinawa: Ribuan Jiwa Diperingati di Tengah Isu Militer yang Mengemuka
Baca dalam 60 detik
- Peringatan 81 tahun Pertempuran Okinawa diwarnai kunjungan keluarga korban ke Tugu Perdamaian Itoman, dengan total korban jiwa mencapai lebih dari 200.000 orang.
- Momen reflektif ini muncul di tengah ketegangan geopolitik Asia Timur yang mendorong Jepang memperkuat postur pertahanan, memicu kekhawatiran publik akan terulangnya tragedi serupa.
- Pengalaman Okinawa sebagai medan perang dahsyat menjadi pengingat bagi Indonesia akan pentingnya diplomasi dan perlindungan warga sipil dalam konflik regional.

Pada 23 Juni 2026, keluarga korban dan warga berkumpul di Tugu Perdamaian (Cornerstone of Peace) di Itoman, Prefektur Okinawa, untuk memperingati 81 tahun berakhirnya Pertempuran Okinawa—salah satu pertempuran paling mematikan dalam Perang Pasifik yang menewaskan lebih dari 200.000 jiwa, termasuk sepertiga penduduk sipil setempat.
Suasana duka menyelimuti area monumen sejak pagi buta. Sejumlah pengunjung terlihat membawa karangan bunga, berdoa, dan menyentuh nama-nama sanak saudara yang terukir di batu granit hitam. Miyo Omine (87), yang selamat dari pertempuran saat berusia lima tahun, menangis saat mengenang mertuanya yang gugur di Filipina. "Perang itu kejam. Tidak boleh terulang lagi. Semua hancur," ujarnya dengan suara bergetar. Kisah serupa datang dari Kiku Nakazato, yang membersihkan nama orang tuanya—tewas terkena tembakan angkatan laut saat bersembunyi di sebuah bangunan.
Peringatan tahun ini terasa lebih muram di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik. Jepang, di bawah kebijakan keamanan baru, terus memperkuat aliansi militer dengan Amerika Serikat dan meningkatkan anggaran pertahanan. Bagi warga Okinawa, yang menanggung beban pangkalan militer AS, langkah ini memicu trauma kolektif. "Kami tidak ingin Okinawa menjadi medan perang lagi," tegas Naohisa Miyagi, yang berdoa di depan nama kerabatnya.
Momen reflektif ini juga menyentuh generasi muda. Seorang anak perempuan berusia enam tahun yang baru pertama kali mengunjungi tugu mengaku terkejut mengetahui begitu banyak orang tewas. "Saya belajar tentang perdamaian di sekolah dan ingin datang ke sini," katanya polos. Hal ini menunjukkan bahwa meski waktu berlalu, upaya transmisi memori sejarah tetap berjalan, terutama melalui pendidikan dan kunjungan ke situs bersejarah.
Bagi Indonesia, tragedi Okinawa menyimpan pelajaran berharga. Sebagai negara yang pernah mengalami pendudukan Jepang dan konflik bersenjata, pengalaman Okinawa mengingatkan bahwa warga sipil selalu menjadi pihak paling rentan dalam perang. Di tengah dinamika geopolitik yang menekan negara-negara Asia Tenggara untuk memilih kubu, Indonesia perlu memperkuat diplomasi bebas aktif dan menjaga netralitas demi mencegah eskalasi konflik yang bisa berimbas pada rakyat sipil. Seperti yang diungkapkan oleh para penyintas, perdamaian bukan sekadar absennya perang, melainkan upaya terus-menerus untuk melindungi kemanusiaan.
Ke depan, pertanyaan mendasar masih menggantung: akankah negara-negara di kawasan belajar dari sejarah kelam Okinawa, atau justru mengulangi kesalahan yang sama dengan mengedepankan kekuatan militer? Jawabannya akan menentukan nasib jutaan jiwa yang masih hidup dalam bayang-bayang konflik.



