Hubungan India-China Mulai Mencair: Pertemuan BRICS Jadi Katalis Normalisasi
Baca dalam 60 detik
- Penasihat Keamanan Nasional India dan Menteri Luar Negeri China bertemu di sela pertemuan BRICS di New Delhi, menandai langkah baru pemulihan hubungan bilateral.
- Kedua pihak sepakat menghormati kepentingan inti masing-masing dan mendorong dialog di bidang perdagangan, keuangan, dan media setelah ketegangan sejak 2020.
- Normalisasi ini berpotensi mengubah dinamika geopolitik Asia, termasuk mempengaruhi kebijakan Indonesia dalam kerangka ASEAN dan kerja sama Selatan-Selatan.

Hubungan dua negara tetangga terbesar di Asia, India dan China, menunjukkan tanda-tanda mencair setelah hampir lima tahun dibayangi ketegangan pasca-insiden perbatasan Galwan pada 2020. Pertemuan bilateral antara Penasihat Keamanan Nasional India Ajit Doval dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela-sela pertemuan para penasihat keamanan nasional BRICS di New Delhi, Senin (22/6), menjadi sinyal paling konkret dari proses normalisasi yang mulai berjalan sejak 2024.
Kementerian Luar Negeri India menyebut pembicaraan tersebut berlangsung โkonstruktif dan berwawasan ke depan.โ Kedua pihak mencatat adanya kemajuan menuju normalisasi bertahap, sebuah pernyataan yang tidak akan terucap beberapa tahun lalu ketika hubungan kedua negara berada di titik terendah. Bagi India yang saat ini memegang presidensi BRICS, pertemuan ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan bahwa blok negara berkembang tersebut masih relevan sebagai forum dialog di tengah rivalitas bilateral.
Dalam pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri China, Wang Yi menekankan pentingnya saling menghormati kepentingan inti dan menangani isu sensitif dengan hati-hati. Ia juga mendorong agar mekanisme dialog bilateral segera diaktifkan kembali, termasuk di bidang perdagangan, keuangan, penegakan hukum, dan media. Seruan ini mengindikasikan bahwa China ingin memperluas kerja sama tidak hanya pada isu keamanan, tetapi juga ekonomi dan diplomasi publik.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi strategis. Sebagai sesama anggota ASEAN dan mitra dialog BRICS, Indonesia berkepentingan agar stabilitas kawasan Asia tetap terjaga. Normalisasi India-China dapat mengurangi tekanan di kawasan Indo-Pasifik dan membuka peluang baru bagi kerja sama Selatan-Selatan, termasuk dalam rantai pasok global dan investasi infrastruktur. Namun, Indonesia juga perlu mencermati apakah dรฉtente ini akan mengubah keseimbangan kekuatan di forum multilateral seperti ASEAN Plus Three atau East Asia Summit.
โKita harus menghormati kepentingan inti masing-masing dan menangani isu sensitif dengan baik,โ ujar Wang Yi dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri China, menekankan pendekatan pragmatis Beijing.
Langkah selanjutnya yang dinanti adalah apakah kedua negara akan segera menggelar pertemuan tingkat menteri luar negeri atau bahkan pertemuan puncak. Jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin kerja sama ekonomi bilateral yang sempat terhambat akan kembali menggeliat. Namun, isu perbatasan yang belum tuntas tetap menjadi bom waktu yang bisa memicu ketegangan baru kapan saja.



