Harga Minyak Tertekan: Aliran Kapal di Hormuz Mulai Normal, Investor Cermati Dampaknya
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia kembali turun tipis setelah AS memberikan keringanan sanksi kepada Iran dan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai pulih.
- Meski ada tanda-tanda perbaikan pasokan, skeptisisme pasar masih tinggi akibat ketidakpercayaan historis antara Washington dan Teheran yang bisa menunda normalisasi harga.
- Bagi Indonesia, penurunan harga minyak berpotensi meringankan beban subsidi energi dan tekanan inflasi, namun risiko gangguan pasokan global belum sepenuhnya hilang.

Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Selasa (23/6), melanjutkan tren negatif dari sesi sebelumnya. Investor masih mencermati perkembangan pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz setelah adanya kemajuan dalam perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Brent crude turun 20 sen atau 0,3 persen menjadi 77,70 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 12 sen atau 0,2 persen ke level 73,74 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi setelah harga minyak anjlok lebih dari 3 persen pada Senin (22/6) menyusul keputusan Washington memberikan keringanan sanksi kepada Iran selama 60 hari pasca putaran awal perundingan.
Data pelacakan kapal menunjukkan dua tanker minyak mentah dengan total muatan hampir 2 juta barel berhasil melintasi Selat Hormuz pada Senin. Angka ini menjadi sinyal bahwa lalu lintas di jalur strategis tersebut mulai menggeliat setelah sempat melambat akibat kekhawatiran akan keamanan pelayaran. Analis ING dalam catatannya menilai peningkatan bertahap aliran minyak melalui Selat Hormuz terus membebani pasar.
Neil Crosby, kepala riset Sparta Commodities, mengungkapkan bahwa peningkatan transit kapal dalam beberapa hari terakhir dianggap pasar sebagai proksi tidak hanya untuk minyak fisik, tetapi juga kemajuan diplomatik. "Sepertinya kita akan terjebak dalam suasana bearish risk-off/optimistis ini sampai ada perubahan signifikan," ujarnya.
Meski ada optimisme sementara, pasar masih dibayangi skeptisisme. Tim Waterer, analis pasar utama KCM Trade, mengingatkan bahwa ketidakpercayaan mendalam antara Washington dan Teheran membuat harga minyak kemungkinan tidak akan kembali ke level sebelum perang dalam waktu dekat. Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memulai kembali perang jika Iran mengganggu pelayaran di Selat Hormuz menambah ketidakpastian.
Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dunia memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, penurunan harga berpotensi mengurangi beban subsidi energi dan menekan inflasi. Namun, risiko gangguan pasokan global yang belum sepenuhnya mereda membuat pemerintah perlu tetap waspada. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebelumnya telah mengantisipasi fluktuasi harga dengan menyesuaikan alokasi subsidi dalam APBN.
Di sisi lain, data pemerintah AS menunjukkan cadangan minyak strategis (SPR) turun menjadi 331,2 juta barel pekan lalu, level terendah sejak Juni 1983. Ini mengindikasikan ketatnya pasokan di tengah konflik berkepanjangan. Para analis dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan stok minyak mentah komersial AS juga akan turun pekan lalu, bersama dengan stok distilat dan bensin.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada kelanjutan perundingan AS-Iran serta data inventaris minyak AS yang dijadwalkan rilis pekan ini. Pertanyaan besarnya: akankah pemulihan aliran minyak di Hormuz berkelanjutan, atau hanya bersifat sementara sebelum ketegangan kembali memuncak?



