Badai Tunda Laga Prancis vs Irak Selama Dua Jam, Mbappe Cetak Dua Gol di Penampilan Ke-100
Baca dalam 60 detik
- Pertandingan Prancis vs Irak di Piala Dunia 2026 terhenti lebih dari dua jam akibat badai petir, memicu kekhawatiran keselamatan pemain dan penonton.
- Kylian Mbappe mencetak dua gol pada laga ke-100 bersama timnas, membawa Prancis menang 3-0 dan memastikan tiket ke babak 32 besar.
- Penundaan panjang menguji konsentrasi pemain; pelatih Irak menilai jeda tersebut berkontribusi pada kesalahan yang berujung gol kedua Prancis.

Badai petir yang melanda Philadelphia Stadium memaksa pertandingan Grup C Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Irak dihentikan selama lebih dari dua jam, menjadikannya laga pertama turnamen yang terganggu cuaca. Pertandingan yang dimulai pukul 17.00 waktu setempat baru berakhir pada pukul 20.47 setelah otoritas setempat memastikan kondisi aman untuk melanjutkan laga.
Wasit Drew Fischer asal Kanada meniup peluit babak pertama saat Prancis unggul 1-0 pada pukul 17.49. Namun, hujan deras disertai ancaman petir membuat pertandingan tidak bisa dilanjutkan. Seluruh 68.344 penonton diinstruksikan berlindung di area concourse stadion, sementara pemain bertahan di ruang ganti. Setelah hampir dua jam menunggu, pertandingan akhirnya dilanjutkan pukul 20.00, dan Prancis menambah dua gol melalui Kylian Mbappe, yang merayakan penampilan ke-100 bersama timnas dengan dua gol. Kemenangan 3-0 ini memastikan Prancis lolos ke babak 32 besar.
Penundaan akibat cuaca ekstrem ini menjadi ujian mental bagi para pemain. Kylian Mbappe mengakui bahwa menunggu selama satu setengah hingga dua jam di ruang ganti sambil tetap fokus adalah hal yang sangat menguras emosi dan mental. "Kami menghabiskan banyak waktu menunggu. Ini sangat melelahkan secara emosional dan mental karena kami harus tetap fokus dan terlibat di ruang ganti," ujar Mbappe. Pelatih Prancis Didier Deschamps, dengan nada bercanda, mengatakan timnya bermain kartu untuk mengisi waktu. Namun, ia menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas utama. "Kamu tidak bisa melawan hujan dan petir. Ini masalah keamanan," katanya.
Situasi serupa pernah dialami oleh asisten pelatih Sporting Kansas City, Edu Rubio, saat menangani West Ham United dalam laga pramusim di Florida. Menurut Rubio, penundaan selama 45 menit masih bisa diatasi dengan yoga, peregangan, dan sepak bola tenis. Namun, untuk penundaan lebih dari dua jam, ia mengaku tidak yakin apa yang harus dilakukan. Pengalaman ini menunjukkan betapa pentingnya strategi manajemen pemain dalam kondisi darurat.
Bagi Irak, penundaan panjang justru menjadi bumerang. Pelatih Graham Arnold menilai jeda tersebut berkontribusi pada kesalahan kiper yang berujung gol kedua Prancis. "Siapa yang lebih siap secara mental menjadi penentu. Sayangnya, kesalahan itu merugikan kami," ujar Arnold. Ia menambahkan bahwa pengalaman ini adalah yang pertama kalinya ia alami sebagai pemain maupun pelatih.
Penundaan akibat cuaca ekstrem seperti ini jarang terjadi di sepak bola, terutama di turnamen sebesar Piala Dunia. FIFA tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan sendiri terkait cuaca buruk dan harus mengikuti rekomendasi otoritas setempat, di Amerika Serikat mengacu pada National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Aturan NOAA menyebutkan pertandingan harus dihentikan jika ada sambaran petir dalam radius delapan mil dari stadion. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa faktor alam tetap menjadi variabel tak terduga dalam olahraga, dan kesiapan mental serta adaptasi cepat menjadi kunci keberhasilan tim.



