Yen Terjun Bebas Mendekati Rekor Terendah, Jepang Siap Intervensi Pasar
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menegaskan komitmen untuk mengambil tindakan tegas di pasar valuta asing guna menstabilkan yen yang terus melemah.
- Pernyataan bersama Jepang-AS menjadi landasan intervensi, yang hanya akan dilakukan untuk mengatasi volatilitas berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar.
- Pelemahan yen yang mendekati level 161 per dolar AS memicu spekulasi intervensi, dengan implikasi bagi negara-negara Asia termasuk Indonesia yang terpapar dampak rantai pasok dan inflasi.

Pemerintah Jepang kembali mengirim sinyal keras ke pasar keuangan global: mereka siap turun tangan secara tegas jika nilai tukar yen terus merosot tak terkendali. Pernyataan itu disampaikan Menteri Keuangan Satsuki Katayama setelah melakukan pembicaraan daring dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent, Senin lalu. Langkah ini diambil saat yen mendekati titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS, menyentuh level 161 yen per dolar.
Katayama menegaskan bahwa komitmen yang tertuang dalam pernyataan bersama Jepang-AS tetap tidak tergoyahkan. Dokumen tersebut menyepakati bahwa intervensi di pasar valuta asing hanya boleh dilakukan untuk melawan volatilitas yang berlebihan, termasuk depresiasi atau apresiasi yang tidak tertib. Dengan kata lain, Jepang tidak akan membiarkan yen jatuh bebas tanpa respons, namun intervensi tidak akan digunakan untuk memanipulasi nilai tukar secara sepihak.
Pergerakan yen yang mendekati rekor terendah ini memicu spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) dan Kementerian Keuangan akan segera melakukan intervensi pembelian yen. Sebelumnya, Jepang telah beberapa kali menggelontorkan dana miliaran dolar untuk menopang mata uangnya, terutama pada tahun lalu ketika yen sempat melemah hingga 162 per dolar. Namun, efektivitas intervensi jangka pendek seringkali terbatas tanpa diiringi perubahan fundamental ekonomi.
Bagi Indonesia, pelemahan yen membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, impor dari Jepang—terutama komponen elektronik dan otomotif—menjadi lebih murah, yang dapat menekan biaya produksi dalam negeri. Namun di sisi lain, persaingan ekspor dengan produk Jepang di pasar global semakin ketat. Selain itu, utang luar negeri Indonesia yang sebagian dalam denominasi yen akan terasa lebih ringan jika rupiah tidak ikut terdepresiasi. Namun, jika rupiah ikut tertekan oleh sentimen global, beban utang justru bisa meningkat.
Analis pasar menilai bahwa intervensi Jepang mungkin hanya memberikan efek sementara. Faktor utama yang mendorong pelemahan yen adalah perbedaan suku bunga antara Jepang dan AS. Bank Sentral Jepang masih mempertahankan suku bunga ultra-rendah, sementara Federal Reserve AS cenderung hawkish. Selama kesenjangan ini belum menyempit, tekanan jual terhadap yen akan terus berlanjut. Katayama sendiri tidak memberikan rincian mengenai waktu atau besaran intervensi, hanya menekankan bahwa pemerintah akan bertindak sesuai kebutuhan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah intervensi Jepang akan cukup untuk menahan laju yen, atau justru memicu perang mata uang di kawasan Asia. Negara-negara tetangga seperti Korea Selatan dan China juga menghadapi tekanan serupa terhadap mata uang mereka. Jika Jepang bertindak sendiri tanpa koordinasi regional, dampaknya bisa terbatas. Namun, jika diikuti oleh negara lain, stabilitas pasar keuangan Asia justru bisa terganggu.



