Tuchel Kritik Istirahat Minum di Piala Dunia 2026: Rusak Momentum Pertandingan
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel menilai jeda hidrasi tiga menit yang diterapkan FIFA di Piala Dunia 2026 mengubah karakter pertandingan menjadi seperti empat kuarter.
- Kebijakan yang awalnya untuk melindungi pemain dari cuaca ekstrem ini justru dikritik karena dianggap menguntungkan penyiar komersial dan mengganggu ritme permainan.
- Tuchel mengakui jeda tersebut membantu pelatih memberi instruksi, tetapi secara keseluruhan ia lebih menyukai sepak bola yang dimainkan tanpa interupsi panjang.

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, secara blak-blakan mengkritik kebijakan jeda minum (hydration break) yang diterapkan FIFA pada Piala Dunia 2026. Menurutnya, aturan yang memotong pertandingan menjadi empat segmen itu justru merusak momentum dan identitas sepak bola sebagai olahraga yang mengalir tanpa henti.
Dalam konferensi pers menjelang laga Grup L melawan Ghana di Boston, Selasa (23/6), Tuchel mengakui bahwa dampak jeda tiga menit di setiap babak itu jauh lebih besar dari perkiraan awalnya. โSaya pikir jeda itu menginterupsi dan mengubah identitas pertandingan sepak bola, jauh lebih dari yang saya kira,โ ujarnya.
FIFA memperkenalkan jeda hidrasi pada pertengahan setiap babak sebagai respons terhadap suhu tinggi di kota-kota tuan rumah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, kebijakan ini menuai perpecahan pendapat. Para kritikus menilai jeda tersebut, yang secara efektif membagi permainan menjadi empat kuarter, lebih menguntungkan penyiar televisi yang mendapat tambahan slot iklan selama lebih dari dua menit. Hal ini menjadi sumber perdebatan sengit di kalangan puritan sepak bola.
Tuchel, yang sebelumnya pernah menangani klub-klub besar Eropa, mengakui bahwa sebagai pelatih ia diuntungkan karena bisa memberikan instruksi tambahan kepada pemain. Namun, ia lebih menyukai sepak bola yang dimainkan dalam satu kesatuan waktu. โSaya suka sepak bola ketika dimainkan dalam satu setengah babak, karena itu membangun momentum. Sulit membangun momentum, dan sulit mempertahankannya,โ tegasnya.
Kebijakan ini juga memicu pertanyaan tentang konsistensi. Meskipun tidak semua pertandingan digelar pada siang hari, FIFA mewajibkan jeda hidrasi di setiap laga demi keseragaman dan keadilan, bahkan ketika kondisi cuaca tidak benar-benar membutuhkannya. Di Boston, misalnya, suhu pada hari pertandingan diperkirakan hanya sekitar 20 derajat Celsius, jauh dari kategori panas ekstrem.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perdebatan ini mungkin terasa relevan. Di kompetisi domestik seperti Liga 1, jeda minum sering diterapkan saat cuaca panas, namun durasinya lebih singkat dan tidak membagi pertandingan secara kaku. Jika FIFA mempertahankan kebijakan ini, bukan tidak mungkin regulasi serupa akan diadopsi di turnamen-turnamen lain, termasuk di Asia Tenggara yang kerap dilanda suhu tinggi.
Pertanyaan besarnya, akankah FIFA mengevaluasi kembali aturan ini setelah Piala Dunia 2026? Atau justru jeda hidrasi akan menjadi norma baru yang mengubah wajah sepak bola selamanya?



